Tampilkan postingan dengan label bo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bo. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 April 2017

ASAL USUL DAN KISAH MAHA CUNDI BODHISATTVA (BAGIAN 3 - AKHIR)

ASAL USUL DAN KISAH MAHA CUNDI BODHISATTVA (BAGIAN 3 - AKHIR)
SUTRA MAHA CUNDI DHARANI
Suatu saat, Yang Terberkati, Sakyamuni Buddha sedang berdiam di dekat Shravasti, pada taman Anathapindada di hutan Jeta. Pada saat itu Sang Tathagata merenungkan dan mengamati para makhluk hidup di masa mendatang. Dengan perasaan yang penuh welas asih kepada mereka, Sang Tathagata memutuskan untuk menjelaskan secara terperinci Cundi Dharani, hati ibu dari tujuh koti para Buddha. Lalu Sakyamuni Buddha menyatakan mantra:
NAMO SAPTANAM SAMYAKSAMBUDDHA KOTINAM TADYATHA: OM, CALE, CULE, CUNDI SVAHA.
Bila ada bhiksu, bhiksuni, upasaka, atau upasika menjunjung tinggi dan menjapa dharani ini 800,000 kali, semua pelanggaran karma mematikan yang dibuat sejak masa tak berawal dapat dilenyapkan. Individu tersebut akan mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan semua Buddha dan Bodhisattva dimanapun ia lahir, dan akan terberkati dengan sekumpulan karma baik sesuai dengan yang diinginkannya. Dia juga akan mendapatkan kesempatan untuk meninggalkan lingkaran tumimbal lahir dalam setiap kehidupannya, menegakkan ajaran dan sumpah para Bodhisattva.
Individu tersebut akan selalu lahir pada alam manusia dan alam dewa, serta terhindar dari berjumpa dengan kelahiran di jalan kejahatan, dan selalu dilindungi oleh makhluk surgawi. Bila terdapat umat awam menjunjung tinggi dan menjapa dharani atau mantra ini , maka rumah tangganya akan selalu terhindar dari penderitaan dan malapetaka, serta penyakit. Semua yang dilakukan oleh orang tersebut akan selalu menguntungkan. Kata-katanya akan dipercaya dan diterima oleh orang lain.
Bila seseorang selesai menjapa mantra tersebut 200,000 kali, dia akan bermimpi bertemu dengan para Buddha, Bodhisattva, PratyekaBuddha, dan Sravaka, serta melihat zat berwarna hitam keluar dari mulutnya.
Sebaiknya seseorang dengan pelanggaran karma berat, ketika sedang membaca mantra tersebut 200,000 kali dia akan bermimpi bertemu dengan para Buddha dan Bodhisatva dan dalam mimpinya akan mengeluarkan zat berwarna hitam.
Bila seseorang telah melakukan salah satu dari lima pelanggaran sila yang mematikan (Panca Garukha Karma) , dan tidak mendapatkan mimpi yang luar biasa ini, disarankan untuk membaca mantra ini 700,000 kali. Setelah itu, orang tersebut akan mendapatkan mimpi yang luar biasa dan pertanda. Ketika seseorang bermimpi suatu pasta berwarna putih seperti lem kanji yang tebal, maka hal itu mengindikasikan bahwa dia telah mendapatkan pemurnian karma.
Sekarang saya akan membabarkan apa saja kegunaan maha - dharani ini. Seseorang sebaiknya berdiri didepan patung Buddha atau diatas tanah bersih didepan stupa. Tuangkan Gomaya (=kotoran sapi, di India dianggap sebagai bersih dan murni) diatas tanah dan buatlah altar mandala berbentuk kotak. Hiasi mandala tersebut dengan bunga, dupa, kanopi, makanan, lampu, dan lilin. Sesuaikan dengan ukuran mandala. Lakukan persembahan ini sesuai dengan kapasitas seseorang. Lalu japa mantra dan semprotkan parfum ke empat penjuru, serta atas dan bawah, untuk membuat proteksi spiritual. Letakkan sebotol parfum pada tiap-tiap sudut dan pada pusat altar mandala. Praktisi harus memasuki mandala dengan berlutut dan menghadap ke timur. Japa mantra 1080 kali dan botol parfum akan berputar dengan sendirinya. Peganglah berbagai macam bunga dengan kedua tangan, dengan posisi saling menyilang. Orang tersebut akan melihat penampakan para Buddha dan Bodhisattva. Japa lagi mantra tersebut 108 kali dalam bunga-bunga dan lemparkan ke udara sebagai sebuah persembahan (kepada para Buddha). Tanyakan semua jenis pertanyaan, dan pertanyaan tersebut akan terjawab.
Bila seseorang harus mengidap suatu penyakit karena berhadapan dengan makhluk gaib, japa mantra tersebut ke dalam rumput cogon dan sapukan rumput cogon tersebut ke pasien. Pasien tersebut seharusnya akan sembuh.
Bila seorang anak kecil kesurupan hantu, ambilah benang lima warna, dan suruhlah seorang gadis muda untuk memintal benang tersebut menjadi sebuah benang. Ambillah benang lima warna tersebut dan ikatkan simpul, sambil japakan mantra, sampai sebanyak 21 simpul. Ikatkan benang dengan 21 simpul tersebut ke leher anak kecil tersebut. Japakan mantra sebanyak 7 kali ke dalam segenggam biji mustard dan lemparkan biji mustard ke wajah anak kecil tersebut. Anak tersebut akan sembuh dari kesurupan.
Aplikasi lain dari mantra dan termasuk metodenya:
1.Untuk orang yang kesurupan hantu, pada saat orang tersebut hadir, gambarkan ciri-ciri tubuh dari orang tersebut pada selembar kertas. Japa mantra ini pada batang dahan willow dan pukulkan gambar tersebut pada orang sakit dengan batang dahan willow. Ini akan menyembuhkan pasien dari penyakitnya. Bila pasien berada pada tempat yang jauh, japa mantra ini ke batang dahan willow tujuh kali, dan kirimkan orang lain dengan batang tersebut. Suruh orang tersebut menggambar ilustrasi pasien dan pukulkan gambar tersebut kepada pasien dengan batang. Ini akan menyembuhkan pasien dari sakitnya.
2.Bila seseorang menjapa mantra ini ketika sedang dalam perjalanan, dia tidak akan perlu takut berjumpa dengan pencuri, perampok, dan binatang buas.
3.Bila seseorang secara konstan membaca mantra ini, dia akan memenangkan segala macam percekcokan. Bila seseorang menyeberangi lautan, japalah mantra ini dan dia tidak akan bertemu dengan gangguan yang disebabkan makhluk-makluk jahat yang ada di lautan.
4.Bila seseorang dikurung dan tangannya diikiat, japalah mantra ini, dan dia akan dibebaskan.
5.Bila terdapat sebuah negara yang menderita karena banjir, kelaparan, atau wabah penyakit menular.Siapkan krim susu, biji wijen, dan beras mengkilat yang tidak lengket. Gunakan tiga jari, ambil masing-masing seporsi dari bahan tersebut untuk menyiapkan adonan. Japa mantra tersebut ke dalam adonan, dan lemparkan ke dalam api. Lakukan hal ini terus-menerus selama 12 jam, selama 7 hari dan semua malapetaka akan dilenyapkan.
6.Buatlah sebuah mandala stupa diatas pasir dipinggiran sungai sambil japakan mantra. Lakukan ini sebanyak 600,000 kali. Seseorang akan melihat Bodhisatva Kuan Yin atau Tara. Atau mungkin dia akan melihat Vajrapani. Apa yang anda doakan pada saat ini akan terpenuhi. Seseorang akan mendapatkan pengobatan spiritual atau mendapatkan prediksi pencapaian keBuddhaan.
7.Bila anda mengitari gambar pohon bodhi searah jarum jam dan menjapa mantra ini sampai 10 juta kali, anda akan menyaksikan seorang Bodhisatva membabarkan dharma kepadamu dan diijinkan untuk mengikuti bodhisatva tersebut.
8.Bila anda melakukan persembahan makanan dan sering menjapa mantra ini, anda akan terbebaskan dari berbagai manusia jahat atau anjing liar. Bila anda pada awalnya menyelesaikan mantra ini di depan pagoda, atau patung Buddha, atau stupa dan sesudah itu melakukan persembahan yang sangat besar pada tanggal 15 suklapaksa (Yang Terang, tengah bulan pertama dalam satu bulan), japa mantra selama satu hari sambil berpuasa makanan, anda akan bertemu dengan Vajrapani dan mendapat undangan untuk pergi ke istananya.
9.Bila anda berdiri didepan sebuah stupa menegakkan tanda dimana roda dharma pertama diputar, atau stupa didirikan dimana Buddha lahir, atau stupa didirikan dimana penerus Buddha langkah berharga dari Surga Triyamsa, atau semua stupa yang berisikan relik, mengitari stupa tersebut searah jarum jam dan menjapa mantra ini. Anda akan melihat Bodhisattva Aparajita dan Bodhisattva Hariti. Keinginanmu akan terpenuhi. Bila anda memerlukan pengobatan secara spiritual, maka hal itu akan diberikan kepadamu, dan anda juga akan mendapatkan ceramah pada jalan Bodhisattva.
10. Bila ada seseorang yang menjapa mantra ini tidak berada pada tempat yang suci, maka ia akan menerima sebuah kunjungan dari semua bodhisatvva, tanpa menghiraukan dimana dia berada. Maha Cundi dharani ini adalah mantra yang penuh kilauan, dan dijelaskan secara terperinci oleh para Buddha di masa lampau, dan akan dijelaskan oleh para Buddha pada masa mendatang. Kenyataannya, para Buddha pada saat ini menjelaskan mantra ini, seperti yang kulakukan hari ini. Hal ini perlu dilakukan untuk menguntungkan setiap makhluk sehingga mereka mencapai penerangan sempurna. Bila ada suatu makhluk yang kurang pahala dan memiliki akar karma baik sedikit, dan tidak memiliki kapasitas natural dan faktor pedukung yang cukup untuk pencerahan akan sangat beruntung menerima dharani ini. Dia akan melaju dengan cepat mencapai penerangan sempurna (Anuttara-Samyak-Sambodhi). Bila seseorang secara konstan ingat untuk menjapa mantra ini, akar-akar karma baik tak terbatas akan matang menuju ke pencapaian.
Ketika Buddha membabarkan Cundi Dharani , makhluk hidup yang tak terbatas jumlahnya terangkat dari kekotoran batin, dan menerima karma baik dari Maha Cundi Dharani, Mantra Maha Terang dan menyaksikan kehadiran para Buddha, Bodhisattva dan makhluk-makhluk suci dari sepuluh penjuru, sebelum mereka bernamaskara dan meninggalkan pertemuan.

ASAL USUL DAN KISAH MAHA CUNDI BODHISATTVA (BAGIAN 2)

ASAL USUL DAN KISAH MAHA CUNDI BODHISATTVA (BAGIAN 2)
Bodhisattva Cundi adalah Bodhisattva dengan tingkatan spiritual yang sangat tinggi. Dia dikatakan sebagai manifestasi dari Tathagata ketika memasuki Samadhi Gaib Transformasi Kekosongan dan Lautan. Cundi disebut juga sebagai Cundi Kwan Im. Kata Cundi berarti kemurnian tertinggi. Menjadi ibu dari semua dewata tingkat Teratai, dia disebut juga sebagai Ibu Buddha, Ibu dari 7 koti Buddha dan Bodhisattva. Cundi memiliki delapan belas tangan dan tiga mata. Dia memiliki kekuatan yang sangat dashyat, dan julukan Tantra nya adalah Vajra Penuh Kemenangan atau Vajra Penundukan. Cundi didampingi oleh dua raja naga yang berdiri disamping singgasana teratainya. Dua raja naga tersebut adalah Nanda dan Upananda.
Simbol dan arti dari delapan belas lengan Cundi:
1.Dua tangan membentuk Mudra Akar Penguraian Dharma, melambangkan kelancaran pembabaran semua Dharma.
2.Tangan memegang bendera berharga yang menakjubkan, melambangkan kemampuan untuk mendirikan vihara yang bagus sekali.
3.Tangan membentuk Mudra Tanpa Gentar, melambangkan kemampuan untuk melepaskan makhluk hidup dari semua teror dan ketakutan.
4.Tangan memegang bunga teratai, melambangkan kemurnian dari enam organ yang tanpa noda, semurni bunga teratai.
5.Tangan memegang pedang kebijaksanaan, melambangkan pemutusan keterikatan penderitaan dan tiga racun serakah, kemarahan, dan kebodohan.
6.Tangan memegang vas kekuasaan, melambangkan aliran nektar untuk memelihara semua makhluk hidup sehingga mereka dapat menerima abhiseka para Buddha
7.Tangan memegang hiasan kepala bertahta permata yang sangat indah, melambangkan keinginan yang dihubungkan dengan seni dharma yang indah.
8.Tangan memegang vajra jerat (=lasso), melambangkan kemampuan untuk menarik semua kedalam tantra yoga
9.Tangan memegang buah surgawi, melambangkan buah pencapaian penerangan sempurna, dan pelatihan karma baik yang sangat luas
10.Tangan memegang dharma chakra, melambangkan pemutaran roda dharma yang konstan, memancarkan sinar terang benderang kepada tiga alam samsara.
11.Tangan memegang kampak perang, melambangkan kemampuan untuk melenyapkan semua latihan sesat dan keterikatan kuat kepada diri sendiri dan makhluk lain.
12.Tangan memegang kulit kerang besar, melambangkan penguraian dharma yang murni menggetarkan alam semesta.
13.Tangan memegang vajra kait, melambangkan kemampuan untuk menarik semua fenomena didalam penglihatan seseorang.
14.Tangan memegang vas pengabul keinginan melambangkan fungsi manifestasi semua harta dan kitab suci dalam sekehendak hati.
15.Tangan memegang vajra melambangkan pemusatan dukungan yang diberikan oleh delapan kelas makhluk surgawi dan naga. Hal ini juga merlambangkan penundukan makhluk yang keras kepala.
16.Tangan memegang sutra kebijaksanaan melambangkan kesadaran diri sendiri dan pengetahuan kebenaran yang sangat dalam dan menakjubkan tanpa bimbingan dari seorang guru.
17.Tangan memegang sebuah mani atau mutiara pengabul keinginan melambangkan getaran dan cahaya pikiran yang tanpa cacat, terang, dan sempurna
18.Dua tangan, bersama dari tangan pertama, telah dijelaskan pada Mudra Akar Penguraian Dharma (poin pertama) .
Beberapa gambar Bodhisattva Cundi melukiskan sikap yang berbeda, seperti membentuk mudra akar atau memegang japamala. Artinya tetap sama, tanpa menghiraukan sikapnya. Sikapnya melambangkan kedelapan belas pahala Bodhisattva Cundi. Anda sebaiknya memvisualisasikan kedelapan belas tangannya secara lengkap, dan membaca mantranya, sehingga anda mendapatkan segera kesadaran sejati dan membebaskan semua makhluk dari penderitaan.

ASAL USUL DAN KISAH MAHA CUNDI BODHISATTVA (BAGIAN 1)

ASAL USUL DAN KISAH MAHA CUNDI BODHISATTVA (BAGIAN 1)
Nama Bodhisattva Cundi Cundhi Saptakoti-Buddhaphagavati atau biasa disingkat Bodhisattva Cundi, diambil dari Bahasa Sansekerta. Terjemahannya bermacam versi. Maha Bodhisattva ini dikenal secara populer oleh umat Buddha Mahayana dari Sekte Exoteric (aliran yang menggarisbawahi hal-hal yang bersifat lahiriah) dan juga dikenal oleh Sekte Esoteric (aliran yang menggarisbawahi hal - hal yang bersifat bathiniah), dikarenakan mantraNya yang dinamai Mantra Cundi. Beliau juga dinamai Sang Kuan Yin Pelatih Kehidupan Spiritual agar dapat masuk ke alam surga oleh umat Buddha Sekte Dhyana.
Dalam kitab - kitab suci agama Buddha, tak terdapat deskripsi atau uraian hingga ke hal-hal yang sekecil-kecilnya mengenai cerita Makhluk Agung ini. Umat Buddha yang mempercayainya, yang berasal dari Sekte Esoteric mempunyai perbedaan pendapat, yaitu apakah tokoh agung ini termasuk golongan Maha Bodhisattva Avalokitesvara atau termasuk golongan Buddha? Namun Beliau lebih sering dimasukkan sebagai Makhluk Agung dari golongan Bodhisattva. Mantranya yang dinamai Mantra Cundi telah diajarkan secara luas dan sangat populer.
Terdapat 9 (sembilan) lukisan mengenai Maha Bodhisattva Cundi ini. Beberapa dari lukisan atau rupangnya, ada yang mempunyai dua tangan, empat tangan, bahkan ada yang mempunyai 84 tangan. Umumnya umat Buddha memuja lukisan atau rupangnya yang bertangan 18 dan bermata tiga. Dalam rupang atau lukisannya, tiap tangannya bersikap bermacam-macam. Ada yang sedang memberikan berkah, memegang pedang atau tasbih, atau memegang alat untuk menghaluskan dan mencampur obat-obatan yang berhiaskan intan berlian. Bila melihat rupang atau lukisan Bodhisattva ini, beberapa umat Buddha sering salah mengerti. Mereka menyangka itu lukisan Bodhisattva Avalokitesvara, yang dikenal dengan nama Sahasrabhujaryavalokitesvara.
Sebenarnya terdapat tangan yang jumlahnya 27 dan 40 tangan (jika ditambah dengan satu tangan yang sikapnya mencakup kedua telapak tangan menjadi satu, dan satu tangan lagi yang sikapnya sedang memberikan berkah), maka jumlah tangannya menjadi 42. Karena rupang atau lukisan Maha Bodhisattva Avalokitesvara tangannya berjumlah banyak untuk memegang aneka macam jenis benda, merupakan ciri khas Maha Bodhisattva Cundi. Jadi Ciri khas Bodhisattva Cundi dilekatkan pada rupang atau lukisan Maha Bodhisattva Avalokitesvara.
Seseorang dapat mengucapkan Mantra Cundi dengan kepercayaan sepenuhnya karena dikatakan Mantra Cundi merupakan doa yang sangat ampuh. Doa yang berkekuatan hebat, diucapkan dalam waktu singkat tetapi akibatnya dapat langsung dirasakan atau terlihat.
Pengucapan kata-kata suci dalam doa atau Mantra Cundi, telah sedikit mengalami perubahan dari rumusan aslinya. Versi terjemahannya ke dalam Bahasa Inggris. Naskah aslinya berbahasa Sansekerta.

Kamis, 13 April 2017

Samantabhadra Bodhisattva / Pu Xian Phu Sa / 普賢菩薩

Dalam rangka menyambut HUT Samantabhadara Bodhisattva yang jatuh pada hari Minggu, 19 Maret 2017 (Lunar tanggal 21 bulan 02), Cetya Tathagata Jakarta akan memberikan artikel mengenai Samantabhadra Bodhisattva / Pu Xian Phu Sa / 普賢菩薩
Dalam bahasa sansekerta, Samantabhadra Bodhisattva mempunyai makna yaitu “Pribadi Maha Agung Yang Layak Memperoleh Penghormatan Secara Universal”. Menurut Sutra Buddhis, dikatakan bahwa Samantabhadra Bodhisattva mendampingi Hyang Buddha Shakyamuni di sisi sebelah kanan dengan menunggangi seekor gajah putih dengan 6 gading yang merupakan simbol dari "Praktek Agung". Sedangkan yang mendampingi Hyang Buddha Shakyamuni di sisi sebelah kiri adalah Manjushri Bodhisattva yang menunggangi seekor singa. Bodhisattva Manjushri melambangkan intelegensi, kebijaksanaan dan lulusnya seseorang dalam menempuh ujian kehidupan dan memperoleh ijazah spiritual pada tingkatan tertentu. Sedangkan Bodhisattva Samanthabadra mewakili doktrin atau ajaran agama. Di dalam kegiatan pembinaan diri, Bodhisattva Manjushri menggaris bawahi "Prajna", sedangkan Bodhisattva Samantabhadra, menggaris bawahi "Samadhi", kebajikan dan praktek. Dari kedua tokoh Bodhisattva ini, melambangkan kesempurnaan dalam prinsip Buddha Mahayana tingkatan paling tinggi.
Samantabhadra Bodhisattva sangat dihormati sebagai seorang pelindung bagi para pelaku Dharma. Dimana Beliau kemudian membuat "10 Sumpah Agung" sesuai dengan yang tertulis dalam Sutra Avatamsaka yaitu:
1. Untuk memuliakan dan menghormati para Buddha
2. Untuk memuja Sang Tathagata
3. Untuk memberikan persembahan kepada para Buddha, dimana persembahan yang sangat berarti adalah dengan mempraktekkan ajaran Sang Buddha sehingga dapat memberikan manfaat kepada diri sendiri dan orang lain.
4. Untuk melakukan pertobatan dan menyesali semua perbuatan buruk pada masa lalu baik dari pikiran, ucapan maupun tindakan dan memperbaikinya
5. Untuk menghayati kegembiraan di dalam (melakukan) penimbunan jasa-jasa kebajikan.
6. Untuk selalu berusaha agar "Roda Dharma" (ajaran Buddha) akan selalu lestari dan diteruskan kepada orang lain
7. Untuk memohon agar Sang Buddha tetap berada di dunia fana agar dapat memberikan manfaat kepada orang banyak
8. Untuk selalu mengikuti jalan ke-Buddha-an (ajaran Buddha) agar depat mencapai pencerahan
9. Untuk selalu dapat hidup secara harmonis dengan semua makhluk
10. Untuk dapat selalu menyalurkan semua manfaat dan kebajikan yang dikumpulkan demi keselamatan semua makhluk
Tempat suci Samantabhadra Bodhisattva adalah di gunung E Mei Shan di propinsi Si Chuan di sebelah Barat, yang merupakan salah satu dari empat gunung suci agama Buddha di Tiongkok. Di Jepang ia sering kali dipuja oleh para pengikutnya untuk memperoleh kemakmuran dan panjang umur, bahkan sebagian pihak menganggap ia sebagai pelindung pengobatan.

20 Ajaran Welas Asih Avalokitesvara Bodhisattva" beserta dengan penjelasannya.

20 Ajaran Welas Asih Avalokitesvara Bodhisattva" beserta dengan penjelasannya.
1. Jika orang bikin kita susah , anggaplah itu adalah tumpukan rejeki.
(Untuk apa kita terlalu memikirkan orang yang berbuat seenaknya sendiri dan hanya ingin membalas dendam, meskipun kita tidak melakukan apa-apa, jadi angaplah sebuah tumpukan rejeki karena kita dapat belajar dari orang itu dan melatih kesabaran dan ketabahan kita serta kedewasaan kita yang tidak akan bisa dilatih pada waktu kita senang. Semakin susah kita semakin belajar mengenal hidup yang penuh cobaan ini dan semakin kita dewasa dalam berpikir dan waspada dalam bertindak)
2. Mulai hari ini, belajarlah setiap hari menyenangkan orang lain.
(Bukan menjilat / merayu, juga bukan menuruti semua kehendak orang lain, juga bukan pintar melawak / bermain-main, juga bukan membela / membenarkan yang salah, tetapi menyenangkan orang pada waktu susah dengan melihat orang tersebut meskipun hanya sementara saja, dengan begitu orang tersebut dapat menemukan jalan keluar dari masalahnya sendiri)
3. Jika kamu merasa pahit dalam hidupmu dengan satu tujuan, itulah bahagia.
(Bukan terus-menerus menahan / menerima rasa pahit di hati, tetapi hanya menerima kenyataan dan membuat hati tenang. Kalau hati tenang pikiran kita akan tenang, kalau pikiran tenang kita dapat membedakan benar / salah, kalau kita kita dapat membedakan benar / salah maka kita akan mempertimbangkan tindakan kita, kalau kita mempertimbangkan tindakan kita akan bertindak dengan benar, kalau kita bertindak yang seharusnya kita lakukan maka kita akan merasakan kebahagiaan, kalau kita merasakan kebahagian kita akan berpikir positif, kalau kita berpikir positif maka kita akan berdamai dengan diri kita sendiri, kalau kita berdamai dengan diri sendiri maka kepahitan didalam hati akan lenyap dengan sendirinnya dan kalau kepahitan lenyap maka itulah kebahagian sejati)
4. Lari dan berlarilah yang cepat untuk mengejar hari esok.
(Bukan ambisius / ingin menjadi nomer satu / tak mau kalah dengan orang lain / kehilangan kesabaran / semaunya sendiri, tetapi tidak menyesali masa lalu dan menerima akibat yang sekarang yang harus kita tanggung, tidak mengulangi kesalahan dimasa lalu serta mulai memperbaiki diri sendiri menjadi lebih baik. Yang harus dilakukan / diperbuat berbuatlah dengan hati yang tulus, karena kejadian hari ini akibat dari perbuatan kita kemarin. Kejadian yang akan datang adalah akibat dari perbuatan kita hari ini. Jangan menyesal dan menyalahkan orang lain bila hari ini mendapat masalah, jangan menyesal dikemudian hari bila di kemudian hari akan mendapat kesusahan)
5. Setiap hari kamu sudah harus merasa puas dengan apa yang kamu sudah miliki saat ini.
(Bukan tidak pasrah dan tidak berbuat apa-apa / tidak menyelesaikan masalah / menerima apapun yang terjadi, tetapi kita harus puas apa yang kita miliki agar dapat mengendalikan diri sendiri dan tidak serakah / memaksakan kehendak / egois / iri hati / lupa akan diri sendiri. Jadi kalau kita sudah memiliki kepuasan diri maka kita dapat dengan mudah menerima orang lain sehingga kita mudah dimengerti dan dipahami, tetapi tidak mudah untuk dibohongi / ditekan / dipengaruhi dengan cara apapun itulah pertahanan yang paling kokoh dari dalam diri kita sendiri. Ini semua yang bisa membedakan mana yang benar/ salah dengan baik dan membuat kita dapat berdamai dengan hati nurani kita. Hati nurani manusia adalah pikiran yang tidak bisa dibohongi oleh penipu yang paling wahid sekalipun)
6.Setiap kali kalau ada orang memberi kamu satu, kamu harus mengembalikannya sepuluh kali lipat.
(Bukan seperti orang yang membayar utang sama rentenir / seperti orang bodoh yang melakukan itu / seperti orang yang mudah ditipu / seperti orang memanjakan anaknya, tetapi kebaikan dibalas dengan kebaikan, kejahatan dibalas dengan kebaikan juga, ini bukan munafik kebaikan dibalas kebaikan itu sudah sering terjadi kalau kejahatan dibalas dengan kebaikan bukan berarti membiarkan kita dijahati terus-menerus tetapi kita tidak membalas perbuatannya saja itu juga termasuk kebaikan. Dan jangan terus kita memberi sedikit tetapi minta banyak, itu sama saja dengan egois. Jadi berhati-hatilah dengan orang yang memberi sedikit tetapi meminta imbalan yang banyak orang tersebut seperti anak manja yang sesuka hati, biarkan saja dari pada membuat pengaruh buruk bagi kita)
7. Nilailah kebaikan orang lain terhadap kamu, tetapi hapuskanlah semua jasa yang pernah kamu berikan kepada orang lain.
(Ini bukan mencari nama besar dan kemasyuran, tetapi anggap saja membayar utang dimasa lalu dan mengajari kita untuk tidak menuntut balasan bagi kebaikan yang kita berikan pada orang lain. Ini merupakan suatu cara untuk menjadi lebih dewasa dan mengerti hati nurani kita. Sehingga kita tidak memaksakan kehendak dan menuntut orang lain)
8. Dalam keadaan benar kamu difitnah, dipersalahkan dan dihukum, maka kamu akan mendapat pahala.
(Bukan berarti merasa benar sendiri / merasa benar karena alasan tertentu / membenarkan tindakan kita sendiri meskipun melanggar tata-krama dan ajaran kebenaran / merasa benar meskipun hati nurani kita mengatakan kita salah / merasa benar karena kita sudah dewasa padahal kita mengenal, mengendalikan, mengoreksi dan memperbaiki diri sendiri saja tidak bisa, ini semua adalah tindakan sesuka hati dan egois. Kebenaran adalah kebenaran, kesalahan adalah kesalahan, bagaimana pun kita merasa diri paling benar tetapi apakah kita sudah bertanya dalam hati kita sendiri, maka dari itu kalau kita benar tetapi masih disalahkan biarkan saja anggap saja kita mendapat pahala yaitu kita dapat lebih mengerti orang lain dan memperoleh pelajaran yang paling berharga yang dapat membuat kita semakin dewasa, sabar dan lebih tabah dalam menjalani kehidupan di masa depan. Karena benar dan salah akan terbukti dengan sendirinya)
9. Dalam keadaan salah kamu dipuji dan dibenarkan, itu merupakan hukuman.
(Bukan dihukum panjung / dipenjara / didenda, tetapi hukuman penyesalan yang lain hari akan kita terima. Sebab bila dalam keadaan salah kamu dipuji dan dibenarkan, maka kamu akan menjadi yakin dengan tindakanmu itu benar meskipun hal itu harus melawan hati nuranimu sendiri sehingga kamu menjadi lupa akan dirimu sendiri dan menjadi merasa paling benar serta tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang jahat. Ini sangat berbahaya sehingga yang baik kamu anggap jahat, yang jahat kamu anggap baik. Inilah awal dari penyesalanmu, sebab semua kejadian pasti punya awal dan akhir sehingga nanti pada akhirnya yang kamu inginkan tidak terwujud gara-gara mempercayai orang yang jahat dan penyesalan tanpa akhir akan menghantuimu seumur hidup)
10. Orang yang benar kita bela, tetapi yang salah kita beri nasehat.
(Bukan benar salah menurut kita sendiri / sok jagoan / pilih kasih / benar karena kita mempunyai kepentingan / juga benar karena kita satu jalan kebenaran / juga benar karena kita mempunyai tujuan, Tetapi kebenaran adalah kebenaran, kesalahan adalah kesalahan. Kalau kita tidak bisa melihat benar / salah lebih baik kita bersikap neteral, kalau kita tidak tahu akar masalahnya lebih baik kita diam saja. Jangan mendengar satu pihak dan menyalahkan pihak lain, jangan merasa kita sudah berada dalam jalan kebenaran terus menjadi dewa keadilan yang bisa memngatakan mana yang benar dan mana yang salah. Hati manusia bagaikan laut yang sangat dalam tidak dapat dilihat dari apa yang ia lakukan, katakan dan pelajari. Jadi benar / salah hanya bisa dilihat oleh hati nurani, yang benar harus dibela yang salah harus dinasehati tetapi bila yang salah merasa benar kita pun tidak akan bisa berbuat apa-apa, biarkan saja ia berbuat semaunya nanti akibat yang ditanggung oleh dirinya sendiri)
11. Jika perbuatan kamu benar, kamu difitnah dan dipersalahkan, tetapi kamu menerimanya, maka akan datang rejeki kepadamu yang berlimpah-limpah.
(Bukan munafik / sok suci / sok bijak / sok baik / pasrah dijahati orang lain. Tetapi dengan menerima kenyataan, maka kamu berusaha untuk bersikap tenang, dengan ketenangan kamu mulai melihat kenyataan dan mulai meupakan orang yang jahat padamu, dengan begitu kebencian akan hilang, bila kebencian hilang meskipun kamu bertemu orang tersebut kamu bisa menganggap orang lain, dengan begitu kamu bisa berkerja dengan tenang dan hidupmu dan melakukan perkerjaanmu dengan tenang sehingga rejeki akan datang. Anggaplah apa yang terjadi adalah pelajaran yang paling berharga dan jangan mengulangi lagi serta terpengaruh orang jahat)
12. Jangan selalu melihat / mengencam kesalahan orang lain, tetapi selalu melihat diri sendiri.
(Bukan tak mau tahu / rendah hati / mau ditekan / membiarkan. Tetapi lebih baik mengoreksi diri sendiri daripada melihat / mengecam orang lain, jadi kalau kita selalu melihat / mengecam orang lain kita akan membuat permusuhan meskipun terkadang kita menasehati tetap saja dianggap mencari permusuhan)
13. Orang yang baik diajak bergaul , tetapi orang jahat dikasihani.
(Bukan pilih-pilih teman / sok suci / sok baik / menutup diri / memandang dunia ini penuh orang jahat / memandang dunia ini orang baik, tetapi bila kita bergaul dengan semua orang maka kita akan tahu mana yang jahat dan mana yang baik, tetapi bila kita tidak bergaul dengan semua orang mana mungkin tahu mana yang baik dan mana yang jahat. Yang baik dianggap jahat dan yang jahat dianggap baik, yang tulus dianggap main-main dan yang main-main dianggap tulus. Ini semua bisa dianggap tidak mengerti dunia luar apa mau dilindungi terus-menerus tanpa tahu kenapa ia tidak boleh bersikap begitu. Dan ketika ia merasa yakin bahwa orang itu baik meskipun jahat dan orang yang dianggap jahat padahal baik, kamu akan mati-matian membela tanpa mau tahu mana yang benar dan mana yang jahat. Ini semua akan mem,bawa penyesalan seumur hidup. Serta kalau kita bergaul dengan semua orang kita dapat mempelajari sifat semua orang yang benar kita buat contoh dan yang tidak benar kita anggap pelajaran yang paling berharga dan jangan kita tiru. Jangan mudah percaya / dihasut / diadu domba / dipengaruhi / dikerjai / dirayu / dibohongi orang lain, pelajari dahulu dan pikirkan serta gunakan hati nurani mu untuk mencari kebenaran, itulah yang membuat kita semakin dewasa. Jadi gunakan kenyataan dan hati nurani mu melihat semua kejadian jangan mengikuti perasaan mu saja / melihat saja tanpa perasaan, Kalau kita melihat orang tersebut berbuat jahat, kalau kita curiga waspadailah dan jangan terlalu dekat dengan orang itu. Kalau kita dinasehati orang lain dan mengatakan orang itu jahat lebih baik kita hati-hati dan perhatikan baik-baik serta selidikilah dahulu sehingga kita tahu orang itu jahat / tidak. Jadi hati-hatilah memilih teman jangan seperti anak kecil yang tak tahu apa-apa dan yang penting hati senang serta tidak membedakan baik / jahat)
 14. Kalau wajahmu tersenyum, hatimu senang pasti aku terima.
(Bukan tersenyum karena terpaksa / kesinisan / kemenangan / kemauanya dituruti / tipu daya / dibutuhkan / memikirkan yang bukan-bukan , tetapi tersenjum dengan hati, bagaimana pun marahnya seseorang kalau kemarahan mulai mereda ia melihat senyuman yang tulus dan hati nurani yang paling dalam ia akan kehilangan amarahnya. Tetapi jangan dicoba untuk hanya sekedar membohongi dan mengerjainya lagi, ia akan lama kelamaan akan mengerti dirimu melebihi dirimu sendiri dan bila orang itu mengenal dirinya sendiri, ia akan membiarkan apapun juga yang kamu perbuat dan kalau perlu ia akan melakukan apa yang kamu takuti agar kamu mendapat pelajaran hidup dan menjadi lebih dewasa)
15. Dua orang saling mengakui kesalahan masing-masing, maka kedua orang tersebut akan berteman sampai akhir hayat.
(Bukan karena terpaksa / merasa salah satu kalah / didamaikan / salah satu membutuhkan, tetapi mereka mulai saling menyadari kesalahan masing-masing dan menyadari persamaan sifat masing-masing dan menyadari persamaan sifat mereka, sehingga mereka saling membuka diri dan tak saling menyerang lagi serta saling teloransi ini yang membuat mereka bisa bersahabat sepanjang masa tanpa saling toleransi diantara mereka, satu orang saja mereka merasa lebih kaya, tinggi, pintar dan hebat dan melakukan tekanan kembali hancurlah persahabatan yang telah dibangun kembali)
16. Saling salah-menyalahkan, maka akan mengakibatkan putus hubungan.
(Jika dua orang saling menyalahkan maka keduanya akan saling menyerang dengan begitu keduanya akan saling terluka dan tidak akan mau berdamai, meskipun didamaikan dengan orang yang ahli mendamaikan pun akan sia-sia. Jika salah satu sudah tidak mau menyalahkan tetapi masih juga disalahkan maka ia akan menjahui orang tersebut dan ia tidak akan mau menemui orang itu sampai kapanpun)
17. Kalau kamu rela dan tulus menolong orang yang dalam keadaan susah, maka jangan sampai diketahui bahwa kamu sebagai penolong.
(Bukan karena sok baik / sok suci / sok mengikuti ajarannya / menunggu agar orang yang ditolong tahu dan ia akan membalas budi , tetapi menolong dengan hati yang tulus tanpa meminta apa-apa)
18. Jangan membicarakan sedikitpun kejelekan orang dibelakangnya, sebab kamu akan dinilai jelek oleh si pendengar.
(Bukan karena tak mau tahu / hati-hati / membiarkan kejelekan orang lain, tetapi kalau kita membicarakan orang lain dibelakangnya, itu sama saja mengosip padahal dirinya sendri mungkin berbuat begitu, apalagi orang yang kita ajak bicara mempunyai posisi dan sifat yang sama)
19. Kalau kamu mengetahui orang berbuat salah, maka tegurlah langsung dengan kata-kata yang lemah-lembut, hingga orang itu menjadi insaf.
(Bukan karenan sok baik / sok suci / sok bijak, tetapi memberi nasehat orang yang berbuat salah adalah sama saja membantu orang tersebut supaya tidak menyesal dikemudian hari, tetapi bukan benar / salah menurutmu, tetapi lihatlah dan gunakan aturan tata-krama dan jangan membiarkan dia melawan hati nuraninya sendiri. Ada beberapa cara menasehati orang lain dan tergantung rasa sayang dan keperduliaanmu. Yang pertama: kalau ia berbuat salah, tegurlah langsung dengan kata-kata yang lemah-lembut, hingga orang itu menjadi insaf, ini bisa dilakukan puluhan dan ratusaan kali sehingga kamu mungkin menjadi bosan melakukannya dan akhirnya membiarkannya. Yang kedua tetapi kalau ia malah sengaja berbuat salah didepanmu, tegurlah dengan keras dan marahinya serta hina dia agar mau berubah dan tidak melakukan dengan sengaja perbuatan itu. Yang ketiga: Kalau ia malah semakin menjadi-jadi dan sengaja berbuat salah, biarkan saja dan jangan perdulikan lagi serta jangan dilarang biar ia berbuat semaunya, tetapi kita harus berusaha mengurangi / menghilangkan rasa sayang kita dan keperdulianmu, supaya kamu tidak terpengaruh dan malah marah dan sakit hati, mungkin dengan ini kita dapat mencegah / menghentikan perbuatan yang disengaja itu dan kita dapat menyadarkannya, tetapi akan kehilangan dan paling tidak kita tidak merusak orang lain secara langsung dan tak langsung)
20 . Doa dan sembah sujudmu akan aku terima, apalagi kamu bisa sabar dan menuruti jalanku .
(Bukan berdoa terus-menerus / berdoa karena ingin menunjukan orang lain / terlalu sabar, tetapi kita berdoa dengan ketulusan dan menjalani ajaran jalan kebenaran yang diajarkan dengan sungguh-sungguh tanpa terpengaruh orang lain)

SEJARAH AVALOKITESVARA BODHISATTVA (BAGIAN 3 - AKHIR)

Dalam rangka menyambut HUT Avalokitesvara Bodhisattva yang jatuh pada hari Kamis, 16 Maret 2017 (Lunar tanggal 19 bulan 02), Cetya Tathagata Jakarta akan memberikan artikel mengenai Avalokitesvara Bodhisattva yang akan terbagi menjadi 3 bagian.
SEJARAH AVALOKITESVARA BODHISATTVA (BAGIAN 3 - AKHIR)
Pada beberapa kalpa yang lalu, terdapat Pratyeka Buddha bernama Saddharma Virya Tatagatha Buddha. Saat ia memasuki tingkat kesempurnaan mencapai tingkat kesucian Pratyeka Bodhi terdengar olehNya keluh kesah penderitaan para makhluk yang berasal / akibat dari hasil perbuatan / buah karma dari makhluk itu sendiri yang tidak baik. Saddharma Virya Tatagatha melihat bahwa pada dasarnya setiap makhluk memiliki benih ke-Buddha-an dan memiliki kesempatan yang sama untuk mencapai tingkat ke-Buddha-an. Semua makhluk manusia mempunyai kesempatan yang sama untuk mencapai tingkat Ke-Buddha-an, asalkan ia mau berjuang dengan melaksanakan Dana Paramita, Sila Paramita, Ksanti Paramita, Virya Paramita, Dhayana Paramita, Prajna Paramita.
Melihat kesunyataan ini, timbullah rasa belas kasihan dari Saddharma Virya Tatagatha dan ia bertekad dengan Maha Maitri Karuna (Kekuatan Cinta Kasih dan Kasih Sayang) menolong para makhluk agar terbebas dari penderitaan dunia. Ketika Prasetya / Kaul diujarkan, saat itu juga di udara muncul para Buddha dan para Bodhisattva Mahasattva yang memuji kebesaran tekad dari saddharma Virya Tatagatha, sambil mengucapkan mantra “Maha Maitri Karuna Sahashera Bhujerah Sahashera Netra Dharani”. Mantra ini merupakan dasar pokok kekuatan dari Saddharma Virya Tathagatha Buddha (Avalokitesvara) dalam menolong para makhluk dari penderitaan dunia loka ini.
Jasa dan pahala Saddharma Virya Tatagatha Buddha tiada taranya, ia dengan memperhatikan dan menolong suara keluh kesah penderitaan makhluk di dunia ini, maka oleh Sakyamuni Buddha ia diberi nama: AVALOKITTESVARA BODHISATTVA dengan memperhatikan keluh kesah penderitaan para makhluk dan menolongnya. Pengertian ajaran dan kegaiban serta cara menolong Avalokittesvara Bodhisattva terdapat dalam kitab suci Saddharma Pundarika Sutra, bagian XXV tentang “AVALOKITTESVARA BODHISATTVA SAMANTHA-MUKHA PARIVARTA”. Sutra Avalokittesvara Bodhisattva Samantha-mukha Parivarta / Kitab Suci mengenai Guan She Yin Pu Sha
Bunyi Saddharma Pundarika Sutra bagian XXV ini antara lain adalah:
Waktu itu Akohayamati Bodhisattva Mahasattva bangkit dari tempat duduknya, dengan jubah terbuka bahu kananNya menyembah kepada Sang Buddha, seraya berkata: “Sang Tatagatha, apakah sebabnya sehingga Saddharma Virya Tatagatha disebut Avalokittesvara Bodhisattva?”
Sang Buddha memberikan penjelasan sebagai berikut: “Siswa pria yang berbudi, jikalau terdapat, para makhluk, ratusan, ribuan, laksaan, jutaan tiada taranya, menderita berbagai penderitaan, mendengar nama Avalokittesvara Bodhisattva segera memusatkan perhatiannya kepada nada suara tersebut: terbebaslah semua penderitaannya.

SEJARAH AVALOKITESVARA BODHISATTVA (BAGIAN 2)

Dalam rangka menyambut HUT Avalokitesvara Bodhisattva yang jatuh pada hari Kamis, 16 Maret 2017 (Lunar tanggal 19 bulan 02), Cetya Tathagata Jakarta akan memberikan artikel mengenai Avalokitesvara Bodhisattva yang akan terbagi menjadi 3 bagian.
SEJARAH AVALOKITESVARA BODHISATTVA (BAGIAN 2)
Altar utama di Kuil Pho Jee Sie (Phu Tho San) di persembahkan kepada Avalokitesvara dengan perwujudan emanasi sebagai “Buddha Vairocana” dan di sisi kiri atau kanan berjajar 16 (enam belas) perwujudan lainnya. Perwujudan Avalokitesvara di altar utama Kim Tek Ie / Jing De Yuan di Petak Sembilan, salah satu Klenteng tertua di Jakarta Indonesia adalah King Cee Kwan Im (Kwan Im Membawa Sutra Memberi Pelajaran Buddha Dharma Kepada Umat Manusia). Disamping itu, terdapat pula wujud Avalokitesvara dalam Chien Chiu Kwan Im / Jeng Jiu Kwan Im / Qian Shou Guan Yin. (Kwan Im Seribu Lengan / Tangan) sebagai perwujudan Kwan Im yang selalu bersedia mengabulkan permohonan perlindungan yang tulus dari umatnya.
Ketika agama Buddha memasuki Tiongkok (Masa Dinasti Han), pada mulanya Avalokitesvara Bodhisattva bersosok pria. Seiring dengan berjalannya waktu, dan pengaruh ajaran Taoisme serta Kong Hu Cu, menjelang era Dinasti Tang, profil Avalokitesvara Bodhisattva berubah dan ditampilkan dalam sosok wanita.
Dari pengaruh ajaran Tao, probabilita perubahan ini terjadi karena jauh sebelum mereka mengenal Avalokitesvara Bodhisattva, kaum Taois telah memuja Dewi Tao yang disebut “Niang-Niang” (Probabilitas adalah Dewi Wang Mu Niang-Niang). Sehubungan dengan adanya legenda Puteri Miao Shan yang sangat terkenal, mereka memunculkan tokoh wanita yang disebut “Guan Yin Niang Niang”, sebagai penganti Avalokitesvara Bodhisattva pria.
Lambat laun tokoh Avalokitesvara Bodhisattva pria dilupakan orang dan tokoh Guan Yin Niang-Niang menggantikan posisinya dengan sebutan Guan Yin Phu Sa. Dari pengaruh ajaran Kong Hu Cu, mereka menilai kurang layak apabila kaum wanita memohon anak pada seorang Dewa. Bagi para penganutnya, hal itu dianggap sesuai dengan keinginan Kwan Im sendiri untuk mewujudkan dirinya sebagai seorang wanita, agar lebih leluasa untuk menolong kaum wanita yang membutuhkan pertolongan.
Dari sini jelas bahwa tokoh Avalokitesvara Bodhisattva berasal dari India dan tokoh Guan Yin Phu Sa berasal dari Tiongkok. Avalokitesvara Bodhisattva memiliki tempat suci di gunung Potalaka, sedangkan Guan Yin Phu Sa memiliki tempat suci di gunung Phu Tho Shan di kepulauan Zhou Shan, China. Kesimpulan atas hal ini adalah tokoh Avalokitesvara Bodhisatva merupakan stimulus awal munculnya Guan Yin Phu Sa.
Dalam sejumlah kitab Budhisme Tiongkok klasik, seperti Sutra Suddharma Pundarika Sutra (Biau Hoat Lien Hoa Keng) disebutkan ada 33 penjelmaan Guan Yin Phu Sa, antara lain :
1. Guan Yin Berdiri Menyeberangi Samudera
2. Guan Yin Menyebrangi Samudera Sambil Berdiri Di Atas Naga
3. Guan Yin Duduk Bersila Bertangan Seribu
4. Guan Yin Berbaju dan Berjubah Putih Bersih Sambil Berdiri
5. Guan Yin Berdiri Membawa Anak
6. Guan Yin Berdiri Di Atas Batu Karang / Gelombang Samudera
7. Guan Yin Duduk Bersila Membawa Botol Suci & Dahan Yang Liu
8. Guan Yin Duduk Bersila Dengan Seekor Burung Kakak Tua
Selain perwujudan yang beraneka bentuk dan posisi, nama atau julukan Avalokitesvara juga bermacam-macam, ada Sahasrabhuja Avalokitesvara (Qian Shou Guan Yin), Cundi Avalokitesvara, dan lain-lain. Walaupun memiliki berbagai macam rupa, pada umumnya Guan Yin ditampilkan sebagai sosok seorang wanita cantik yang keibuan, dengan wajah penuh keanggunan.
Selain itu, Guan Yin Phu Sa sering juga ditampilkan berdampingan dengan Bun Cu Pho Sat dan Po Hian Pho Sat, atau ditampilkan bertiga dengan Tay Su Ci Pho Sat (Da Shi Zhi Phu Sa) & O Mi To Hud. Sedangkan dalam Maha Karuna Dharani (Ta Pei Cou / Ta Pei Shen Cou) ada 84 perwujudan Guan Yin Phu Sa sebagai simbol dari Bodhisatva yang mempunyai kekuasaan besar.

SEJARAH AVALOKITESVARA BODHISATTVA (BAGIAN 1)

alam rangka menyambut HUT Avalokitesvara Bodhisattva yang jatuh pada hari Kamis, 16 Maret 2017 (Lunar tanggal 19 bulan 02), Cetya Tathagata Jakarta akan memberikan artikel mengenai Avalokitesvara Bodhisattva yang akan terbagi menjadi 3 bagian.

SEJARAH AVALOKITESVARA BODHISATTVA (BAGIAN 1)
Avalokiteśvara (अवलोकितेश्वर) / Guan Shi Yin Pu Sa (觀世音菩薩) adalah Bodhisattva pemancar berkah Maitri (cinta kasih) dan Karuna (kasih sayang) yang memiliki kebesaran yang tiada tara. Ia memiliki kekuatan yang luar biasa untuk menolong para makhluk yang menderita di dunia ini. Dalam bahasa Jepang, Avalokitesvara disebut Kannon' (観音) atau secara resmi Kanzeon (観世音). Dalam bahasa Korea disebut Gwan-eum atau Gwanse-eum, dan dalam bahasa Vietnam Quán Âm atau Quan Thế Âm Bồ Tát.
Istilah Avalokitesvara diterjemahkan oleh Kumarajiva menjadi Guan Shi Yin. Pengertian Avalokitesvara Bodhisattva dalam bahasa Sanskerta adalah:
- Kata "Avalokita" (Kwan / Guan / Kwan Si / Guan Shi) yang bermakna "melihat ke bawah" atau "mendengarkan ke bawah". "Bawah" disini bermakna "dunia", yang merupakan suatu "alam" (Sanskerta: Lokita).
- Kata "Isvara" (Im / Yin), berarti suara (suara jeritan mahluk atas penderitaan yang mereka alami).
Avalokitesvara sendiri asalnya digambarkan berwujud laki-laki di India, begitu pula pada masa menjelang dan selama Dinasti Tang (tahun 618-907). Namun pada awal Dinasti Song (960-1279), berkisar pada abad ke 11, beberapa dari pengikut melihatnya sebagai sosok wanita yang kemudian digambarkan dalam para seniman. Perwujudan Guan Yin sebagai sosok wanita lebih jelas pada masa Dinasti Yuan (1206-1368). Sejak masa Dinasti Ming, atau berkisar pada abad ke 15, Guan Yin secara menyeluruh dikenal sebagai wanita.
Bila sudah mencapai taraf Buddha sudah tidak lagi terikat dengan bentuk apalagi gender, karena pada dasarnya roh itu tidak mempunyai bentuk fisik dan gender. Menurut cerita, Dewi Kwan Im adalah titisan Dewa Che Hang Yang ber-reinkarnasi ke bumi untuk menolong manusia keluar dari penderitaan, karena beliau melihat begitu kacaunya keadaan manusia saat itu dan sebagai akibatnya terjadi penderitaan di mana-mana.
Dewa Che Hang memilih wujud sebagai wanita, agar lebih leluasa untuk menolong kaum wanita yang membutuhkan pertolonganNya. Disamping itu agar lebih bisa meresapi penderitaan manusia, bila dalam bentuk wanita, karena di jaman itu, wanita lebih banyak menderita dan kurang leluasa dalam membuat keputusan.
Guan Yin pertama diperkenalkan ke China pada abad pertama SM, bersamaan dengan masuknya agama Buddha. Pada abad ke-7, Guan Yin mulai dikenal di Korea dan Jepang karena pengaruh Dinasti Tang. Pada masa yang sama, Tibet juga mulai mengenal Guan Yin dan menyebutnya dengan nama Chenrezig. Dalai Lama sering dianggap sebagai emanasi dari Avalokitesvara di dunia.
Jauh sebelum masuknya agama Buddha menjelang akhir Dinasti Han, Guan Shi Yin Pu Sa telah dikenal di Tiongkok purba dengan sebutan Pek Ie Tai Su atau Pek Ie Nio Nio dalam bahasa hokkien yaitu Dewi Berbaju Putih Yang Welas Asih ("Dewi Welas Asih"). Di kemudian hari, Dewi Guan Yin identik dengan perwujudan dari Buddha Avalokitesvara.

Selasa, 11 April 2017

Asal Usul dan Kisah Baghavati Mahamayuri Vidyarajni《孔雀明王》

Asal Usul dan Kisah Baghavati Mahamayuri Vidyarajni《孔雀明王》
Sanskrit : Mahamayuri-vidyarajni
Tibet : Rig-snags-kyi rgyal-mo rma-bya chen-mo
Baghavati Mahamayuri Vidyarajni merupakan salah satu yidam Tantra , biasanya Vidyaraja tampil dalam rupa menyeramkan, membuat orang merasa sulit mendekati. Namun Vidyaraja ini tampil dalam wujud belas kasih dan terkesan mudah didekati.
Dalam Mahamayuri Vidyarajni Sutra 《孔雀明王經》di masa hidup Sakyamuni Buddha, ada seorang biksu yang tergigit oleh ular berbisa dan tidakmampu mengatasi kesakitannya. Saat Ananda melaporkan hal ini pada Buddha, Sakyamuni Buddha membabarkan Dharani yang mampu mengusir gangguan siluman, jadi jadian, racun dan segala penyakit jahat, Dharani itu adalah Mantra Mahamayuri Vidyarajni.
Selain itu, dahulu kala, di Himalaya (Xueshan – 雪山) ada seekor Maharaja Merak yang berwarna emas. (金色大孔雀王) yang selalu melafal mantra ini dalam batin sehingga memperoleh ketenteraman. Pada suatu ketika , karena keserakahan akan kesenangan, dia pergi bermain ke gunung yang jauh bersama dengan kawanan merak betina, sehingga tidak melafal mantra ini lagi, akhirnya ia terjebak oleh perangkap yang dibuat manusia. Dalam ikatan, ia kembali ke pikiran lurusnya dan melafalkan mantra ini, akhirnya bisa terbebas dari ikatan tersebut.
Dharmadesana Sakyamuni Buddha dalam sutra ini , merupakan awal para umat mengenal Mahamayuri Vidyarajni dan Dharani tersebut.
Tubuh Mahamayuri Vidyarajni biasanya berwarna putih, mengenakan jubah tipis berwarna putih. Memakai mahkota, hiasan kepala, anting, ikat lengan dan hiasan lainnya. Duduk diatas seekor merak emas, raut wajah Nya welas asih. Berlengan empat. Wujud ini diuraikan dalam Kitab tata Cara Menggambar Mahamayuri Vidyarajni 《大孔雀明王畫像壇場儀軌》Tripitaka19‧440a
「Menggambar Baghavati Mahamayuri Vidyarajni Bodhisattva diatas tahta teratai, kepala menghadap arah timur, berwarna putih, mengenakan jubah ringan berwarna putih. Bermahkota, hiasan kepala, anting, gelang lengan dan lain lain. Mengendarai merak emas, duduk diatas padmasana putih atau bisa juga hijau, berparas belas kasih. Berlengan empat, tangan kanan pertama memegang padma, kedua membawa buah. Tangan kiri pertama membawa buah manggala, kedua membawa 3 atau 5 helai bulu merak. 」

Legenda Ji Gong Memindahkan Kayu Gelondongan Dari Sumur - bagian 5 (Tamat)

Legenda Ji Gong Memindahkan Kayu Gelondongan Dari Sumur - bagian 5 (Tamat)
Ji Gong ( Chi Kung ) memiliki banyak nama, ia lahir dengan nama Li Xiuyuan ( 李 修 元) nama Buddha nya, Buddha Hidup Ji Gong ( 济公活佛 ) adalah seorang bhiksu terkenal pada masa Dinasti Song Selatan. Dikatakan bahwa beliau hampir selalu mengenakan jubah compang camping, dengan topi bhiksu yang lusuh di kepala dan daun kipas di tangan.
Beliau tidak kelihatan seperti selayaknya seorang bhiksu ataupun rakyat biasa, hampir terlihat seperti orang bodoh dan gila. Tetapi beliau memiliki kuasa supernormal. Cerita mengenai Ji Gong yang membantu orang-orang yang mengalami bahaya atau kesulitan, telah tersebar dari masa ke masa. Ji Gong menjadi seorang bhiksu di Kuil Lingyin, Hanzhou. Kemudian, beliau dikeluarkan dari kuil karena kepala biara iri terhadap kemampuannya. Ji Gong kemudian pindah ke Kuil Jingci. Suatu hari, kuil tersebut terbakar dan Ruang Besar Buddha terbakar. Kepala bhiksu sangat cemas, akan tetapi Ji Gong terlihat sangat tenang dan juga malah terlihat gembira. Kepala biara kemudian memarahinya,
”Bagaimana mungkin Anda tidak sedih melihat malapetaka yang menimpa kuil ini?”
Ji Gong kemudian berkata,”Tidak ada gunanya sedih. Kita hanya perlu membangun yang baru.” Kepala biara menjawab,
”Sangatlah mudah berkata daripada berbuat. Apakah Anda tahu berapa banyak kayu yang diperlukan untuk
membangun Ruang Besar yang baru? Bagaimana caranya kita dapat meminta sumbangan?”
Ji Gong tertawa dan berkata,”Guru, jangan khawatir. Saya akan menanganinya.” Kepala biara tersebut ragu-ragu dan berkata,”Tolonglah pergi meminta sumbangan.” “Baiklah kalau begitu, tetapi saat ini saya lapar,” jawab Ji Gong
Kepala biara menghela napas,”Sepanjang Anda bisa mendapatkan kayu tersebut, Anda akan mendapatkan apapun yang ingin Anda makan.” Ji Gong kemudian meminta arak dan daging. Setelah makan, Ji Gong berkata, ”Baiklah, saya akan pergi sekarang. Saya akan kembali dalam waktu 3 hari. Tunggulah saya.” Ji Gong kemudian masuk ke dalam wadah arak dan menghilang. Ji Gong secara cepat muncul di Gunung Emei di Sichuan. Dia berjalan ke gerbang rumah seorang tuan setempat dan mengetuk ikan kayu di pintu secara sembarangan. Tuan tanah tersebut
mendengar suara ketukan pintu dan keluar untuk
bertanya kepadanya.”Dari manakah asal Anda?”
Ji Gong menjawab,”Saya berasal dari Kuil Jingci
di Hangzhou.”
Tuan tersebut kemudian menjawab.”Anda telah menempuh perjalanan yang jauh. Mengapa Anda mengetuk ikan kayu di pintu gerbang rumah saya?”
Ji Gong berkata,”Kuil kami terbakar. Saya tahu Anda kaya. Anda memiliki kayu yang banyak. Saya menempuh perjalanan jauh ini untuk memohon sedekah kepada Anda.”
Tuan tersebut kemudian menjawab,”Berapa yang Anda inginkan?” Ji Gong menhawab,”Tidak lebih dan tidak kurang, hanya yang dapat terbungkus oleh jubah saya.”
Tuan tersebut melihat pada jubah Ji Gong yang lusuh dan mencemooh,”Bhiksu gila! Jubah ini bahkan tidak dapat membungkus sebuah ranting.” Dia menyetujui permintaan Ji Gong. Ji Gong berterima kasih kepadanya, melepaskan jubahnya dan melemparkannya ke gunung. Dalam sekejap, jubah tersebut menjadi besar, dan dapat menutupi seluruh gunung.
Tuan tersebut terkejut karena tidak menyangka bhiksu Ji Gong memiliki kuasa supernormal. Dia juga tidak dapat mengingkari janjinya. Ji Gong kemudian memilih 100 pohon besar dan menebangnya. Kemudian, membawanya lewat Sungai Yangtze, mengikuti arus sungai. Akan tetapi, kayu tersebut berhenti di pos penjaga, di mana petugas jaga meminta uang pajak. Ji Gong kemudian bertanya,”Sungai ini bukan milik Anda. Mengapa saya harus membayar pajak?” Petugas penjaga menjawab,”Semua gunung dan air di sini adalah milik Kaisar. Semua barang yang melewati air ini harus terkena pajak.”
Ji Gong kemudian menjawab,”Saya mengerti. Apakah ini berarti bahwa barang-barang yang melewati bawah air tidak akan terkena pajak, apakah betul?” Petugas jaga tersebut tertawa dan menjawab,”Kayu hanya dapat mengapung. Jika Anda memiliki kuasa untuk membuat kayu tersebut melewati bawah air, saya akan mengizinkan Anda lewat.”
Dengan seketika, Ji Gong menghentakkan kaki ke rakit kayu tersebut dan secara cepat tenggelam ke dalam air bersama dengan seluruh kayu. Melihat hal ini, petugas jaga ketakutan. Di Kuil Jingci, kepala biara mulai khawatir setelah menunggu selama dua hari. Pada siang di hari ke-3, Ji Gong secara tiba tiba berlari ke dalam dan berteriak.”Kayunya telah datang! Kayunya telah datang!” Kepala biara bergegas keluar dan tidak melihat apa-apa. Ji Gong menggenggam tangan kepala biara tersebut dan berkata,”Guru, mari ikuti saya.”
Mereka bergegas ke sumur di depan dapur. Kepala biara melihat kayu muncul dari dalam sumur satu per satu. Mereka memudian mengangkat sekitar 60 kayu. Ketika kepala biara merasa kayu telah cukup, tidak ada lagi kayu yang keluar dari sumur tersebut. Inilah cerita
bagaimana Ji Gong membawa kayu.
TAMAT

Rabu, 17 Agustus 2016

KISAH 100 BUDDHA & BODHISATTVA (TIGA SUCIWAN SURGA SUKHAVATI) - MAHASTHAMAPRAPTA BODHISATTVA / DA SHI ZHI PHU SA / 大勢至菩薩 (BAGIAN 4 - AKHIR)



Dalam rangka memperingati HUT dari Mahasthamaprapta Bodhisattva yang jatuh pada hari ini, Senin tanggal 15 Agustus 2016 (Lunar tanggal 13 bulan 7), Cetya Tathagata Jakarta akan memberikan artikel mengenai Mahasthamaprapta Bodhisattva yang merupakan salah satu dari Tiga Suciwan Surga Sukhavati yang akan terbagi menjadi 4 artikel

Di negara atap dunia yaitu Tibet, Mahasthamaprapta lebih dikenal dengan nama Bodhisattva Vajrapani (Tibet: Chana Dorje, Chinese: Jin-gangshou Pusa). Sebagai emanasi dari Dhyani Buddha Akshobya, Vajrapani menempati posisi sebagai pemimpin keluarga Vajra. Bersama Avalokitesvara dan Manjusri, merupakan 3 bodhisattva utama tradisi Vajrayana yang melambangkan 3 aspek utama dari Bodhi (pencerahan) yaitu cinta kasih (mahamaitrikaruna), kebijaksanaan (mahaprajna) dan kekuatan (mahabala). Ketiga Bodhisattva tersebut juga menyimbolkan tubuh, ucapan dan pikiran para Buddha. Selain itu, dalam paham wilayah, Vajrapani adalah pelindung Mongolia, Manjusri pelindung dataran Tiongkok dan Avalokitesvara pelindung Tibet.


Selain sebagai Bodhisattva, Vajrapani juga merupakan Dharmapala (Pelindung Dharma). Ia adalah Dharmapala dari Sakyamuni Buddha dan selalu bersama Buddha (Abhyantaraparivara), layaknya Ananda. Dalam Sutra Astasahasrika Prajnaparamita dikatakan, “Maka sekarang, Vajrapani, Yaksha yang agung, terus menerus mengikuti bodhisattva yang teguh! Tidak tertandingi, Bodhisattva tidak dapat dikalahkan oleh manusia maupun hantu.” Demikian juga Sutra Lankavatara pun menyebutkan bahwa Buddha selalu diikuti oleh Vajrapani.

Selain itu, raja-raja seperti Raja Suchandra dari Shambhala dikenal sebagai emanasi Vajrapani. Guru Padmasambhava meramalkan bahwa Vajrapani akan beremanasi sebagai Raja Raipavhen dan sebagai seorang perempuan yaitu Konchok Paldron, putri dari Chokgyur Lingpa, Terton agung sekaligus nenek dari Tulku Urgyen Rinpoche. Jadi, Vajrapani atau Mahasthamaprapta tidak mewujudkan diri beliau di Tiongkok dan Jepang saja, namun juga di Tibet, India dan Shambala.

Dari berbagai bentuk tubuh penjelmaan yang ada, sebenarnya hanya satu hal yang diamanatkan oleh Mahasthamaprapta Bodhisattva kepada kita semua, yaitu tekunlah kita mengendalikan enam landasan indera dan berfokuslah pada pelafalan nama Buddha secara tiada henti, itulah kekuatan agung Bodhisattva Mahasattva. Itulah salah satu metode terbaik dalam membangkitkan kekuatan agung hakekat sejati kita.

Kekuatan agung itu bukan menjadi hak milik atau hak paten Bodhisattva Mahasthamaprapta atau para Bodhisattva Mahasattva dan Buddha, melainkan semua makhluk dapat mencapainya asal mampu menerapkan Dharma yang indah. Konsisten dalam Dharma, itulah kekuatan agung yang sejati.
 

KISAH 100 BUDDHA & BODHISATTVA (TIGA SUCIWAN SURGA SUKHAVATI) - MAHASTHAMAPRAPTA BODHISATTVA / DA SHI ZHI PHU SA / 大勢至菩薩 (BAGIAN 3)



Dalam rangka menyambut HUT dari Mahasthamaprapta Bodhisattva yang jatuh pada hari Senin tanggal 15 Agustus 2016 (Lunar tanggal 13 bulan 7), Cetya Tathagata Jakarta akan memberikan artikel mengenai Mahasthamaprapta Bodhisattva yang merupakan salah satu dari Tiga Suciwan Surga Sukhavati yang akan terbagi menjadi 4 artikel

Nama Mahasthamaprapta muncul dalam berbagai Sutra. Sutra Saddharmapundarika menyebutkan Mahasthamaprapta termasuk dalam kumpulan besar yang mendengarkan Dharma Buddha di Puncak Grdhakuta, Rajagriha. Sedangkan dalam Sutra Amitayur Dhyana, Buddha menjelaskan tentang Mahasthamaprapta sebagai berikut:

Buddha bersabda lagi: “Selanjutnya kita melaksanakan Vipasyana Bodhisattva Mahasthamaprapta! Ketahuilah, tinggi dan besar Bodhisattva ini sama dengan Bodhisattva Avalokitesvara. Lingkaran sinar empat penjuru masing-masing mencapai 125 yojana dan memancar sejauh 250 yojana. Seluruh tubuh memancarkan cahaya ungu keemasan yang juga menerangi 10 oenjuru alam, para makhluk yang berjodoh akan dapat melihatnya. O, Arya Ananda! Ketahuilah, asal dapat melihat cahaya yang terpancar dari satu pori saja, identik dengan melihat cahaya murni dan menakjubkan dari para Buddha di 10 penjuru! Karena itu, Bodhisattva Mahasthamaprapta juga disebut Bodhisattva Anantavamprabha (Cahaya Tanpa batas). Sebab cahaya dari satu pori itu sama seperti cahaya para Buddha yang tak terhitung banyaknya yang menyinari secara luas tiada batas. Seperti halnya Bodhisattva Avalokitesvara menyinari semua makhluk dengan cahaya kasih sayang dan welas asih, Bodhisattva ini menyinari segala tempat dengan cahaya kebijaksanaan, agar para makhluk dapat memiliki cahaya kekuatan tak terhingga yang dapat membebaskan diri dari penderitaan tiga alam rendah. Karena itu arti nama Bodhisattva Mahasthamaprapta adalah kekuatan dahsyat dari kebijaksanaan memenuhi sepuluh penjuru."

"Di atas mahkota Bodhisattva Mahasthamaprapta terdapat 500 teratai mustika. Di setiap teratai mustika terdapat 500 takhta mustika, setiap takhta menampakkan panjang dan lebar wilayah sepuluh puluhan penjuru Tanah Suci Mengagumkan dari para Buddha. Usnisa di dahi Bodhisattva Mahasthamaprapta seperti bunga teratai merah dan di atas usnisa itu terdapat sebuah kundika (botol mustika) yang berisikan cahaya kebijaksanaan, yang digunakan untuk menyelamatkan semua makhluk. Tanda-tanda agung lainnya tidak berbeda dengan Bodhisattva Avalokitesvara."

"Ketika Bodhisattva Mahasthamaprapta mengayunkan langkah, sepuluh penjuru alam akan bergetar, dan pada setiap tempat yang bergetar di masing-masing alam itu muncullah 500 koti bunga teratai mustika. Setiap teratai mustika itu tampak anggun dan agung. Keagungannya mirip alam Sukhavati! Saat Bodhisattva Mahasthamaprapta duduk, tanah tujuh permata di Alam Sukhavati akan terlebih dulu bergoyang, lalu menyebar hingga Tanah Buddha di bagian bawah yaitu Negeri Buddha Suvarnaprabha. Di antara dua alam Buddha tersebut tertampak Nirmanakaya (Badan penjelmaan) dari Buddha Amitayus (Buddha Amitabha), Bodhisattva Avalokitesvara dan Bodhisattva Mahasthamaprapta yang tak terhitung jumlahnya. Kesemuanya berkumpul di Alam Sukhavati, memenuhi seluruh langit, dan duduk bersila di atas takhta teratai, membabarkan Dharma yang menakjubkan dan dalam maknanya demi menyelamatkan para makhluk yang menderita. Metode tersebut disebut Vipasyana Bodhisattva Mahasthamaprapta”, juga dinamakan Vipasyana ke sebelas.”

Dikisahkan dalam Sutra Shurangama, Mahasthamaprapta mencapai pencerahan melalui pengendalian landasan indera dan pelafalan nama Buddha secara tiada henti sehingga mencapai kondisi Samadhi. Sesepuh ke-13 tradisi Tanah Suci (Sukhavati), Master Yin-guang (1861-1941), menetapkan Dashizhi Pusa Nianfo Yuantong Zhang (Bab Bodhisattva Mahasthamaprapta Melafalkan Nama Buddha secara Sempurna dan Tiada Halangan – bagian dari Sutra Shurangama) sebagai salah satu dari Sutra acuan tradisi Sukhavati.

Kalangan Mahayana Tiongkok meyakini Master Yin-guang sebagai badan penjelmaan Bodhisattva Mahasthamaprapta. Sedang tempat pembabaran Dharma di Tiongkok dari Mahasthamaprapta yang kelahirannya diperingati setiap tanggal 13 bulan 7 Imlek ini ditetapkan di Vihara Guangjiaosi di Gunung Langshan, Nantong, Propinsi Jiangsu.

Mahasthamaprapta juga diyakini beberapa kali mewujudkan dirinya di negara Jepang. Di sana, Mahasthamaprapta berwujud sebagai seorang perempuan yaitu istri dari pangeran Shotoku, juga sebagai seorang pria, yaitu Honen Shonin (1133-1212), pendiri aliran Jodo (Sukhavati) di negara matahari terbit. Uniknya, nama asli Honen (Chinese: Faran) adalah Seishi-maru. “Seishi” adalah terjemahan bahasa Jepang untuk Mahasthamaprapta.
Bahkan tidak hanya beremanasi sebagai seorang manusia saja, Mahasthamaprapta juga muncul sebagai seorang dewa bernama Dewa Candra (bulan), yang menerangi kegelapan “malam” samsara dan memberikan kebijaksanaan pada semua makhluk.
 

KISAH 100 BUDDHA & BODHISATTVA (TIGA SUCIWAN SURGA SUKHAVATI) - MAHASTHAMAPRAPTA BODHISATTVA / DA SHI ZHI PHU SA / 大勢至菩薩 (BAGIAN 2)



Dalam rangka menyambut HUT dari Mahasthamaprapta Bodhisattva yang jatuh pada hari Senin tanggal 15 Agustus 2016 (Lunar tanggal 13 bulan 7), Cetya Tathagata Jakarta akan memberikan artikel mengenai Mahasthamaprapta Bodhisattva yang merupakan salah satu dari Tiga Suciwan Surga Sukhavati yang akan terbagi menjadi 4 artikel

Kekuatan dari Bodhisattva sungguh tidak terkirakan. Kekuatan untuk selalu semangat mencapai ke-Buddha-an, kekuatan kebijaksanaan menaklukkan Mara dan kegelapan batin, kekuatan kasih sayang dan welas asih menyebrangkan semua makhluk ke Pantai Seberang, Nirvana, itulah kekuatan agung Bodhisattva Mahasattva. Salah satu Bodhisattva Mahasattva yang memiliki kekuatan luar biasa itu adalah Bodhisattva Mahasthamaprapta atau dalam Mahayana Tiongkok dikenal dengan nama Da Shi Zhi Phu Sa (大勢至菩薩).


Nama Bodhisattva Mahasthamaprapta memiliki makna “Bodhisattva yang Mencapai Kekuatan Agung”. Seperti yang diutarakan dalam Sutra Amitayur Dhyana (Guan Wu Liang Shou Jing) yang berbunyi “Dengan kekuatan kebijaksanaan, mencabut penderitaan tiga alam rendah (neraka, setan, hewan) agar memperoleh kebahagiaan tertinggi, karena itu disebut sebagai Mahasthamaprapta.” Sedang Sutra Visesacintabrahma-pariprccha (Si Yi Jing) mencantumkan “Saya menapakkan kaki di satu tempat, bergetarlah alam tiga ribu maha ribu dan istana Mara, sebab itu disebut sebagai Mahasthama.”

Makna nama Mahasthamaprapta / Da Shi Zhi dapat diartikan pula sebagai:
Maha / Da menunjukkan arti pencapaian Tubuh Dharma (Dharma-kaya) yang besar dan agung
Sthama / Shi adalah kekuatan pencapaian kebijaksanaan yang menghancurkan kegelapan batin (internal) dan menundukkan godaan Mara (eksternal) Prapta / Zhi adalah pencapaian pencerahan yang mendekati ke-Buddha-an

Amitabha Buddha, Avalokitesvara dan Mahasthamaprapta Bodhisattva adalah Tiga Suciwan Pembabar Dharma di Tanah Suci Sukhavati. Setelah Buddha Amitabha mahaparinirvana, maka Bodhisattva Avalokitesvara akan menjadi Buddha menggantikan Amitabha membabarkan Dharma di Sukhavati. Setelah Avalokitesvara Mahaparinirvana, akan digantikan oleh Mahasthamaprapta dengan nama Shanzhu Gongde Baowang Rulai. Mahasthamaprapta digambarkan mengenakan mahkota dengan sebuah botol berisi cahaya kebijaksanaan di tengahnya, kedua tangan memegang setangkai bunga teratai (lotus) yang mekar, membuka hati setiap insan menerima Buddha.