Tampilkan postingan dengan label bu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bu. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 April 2017

BAGIAN 3 : PENERANGAN AGUNG (AKHIR)

Dalam rangka memperingati hari Pelepasan Agung Sakyamuni Buddha yang jatuh pada hari Minggu, 5 Februari 2017 (Lunar tanggal 8 bulan 2), Cetya Tathagata Jakarta akan memberikan artikel mengenai kisah Pelepasan Agung Sakyamuni Buddha yang akan terbagi menjadi 3 artikel
Bagian 1 : Pangeran Siddharta Meninggalkan Istana
Bagian 2 : Bertapa Di Hutan Uruvela
Bagian 3 : Penerangan Agung (Akhir)
BAGIAN 3 : PENERANGAN AGUNG (AKHIR)
Pertapa Gotama meneruskan perjalanannya dan pada sore hari tiba di Gaya. Ia memilih tempat untuk bermeditasi di bawah pohon Bodhi (Latin : Ficus Religiosa), kemudian mempersiapkan tempat duduk di sebelah Timur pohon itu dengan rumput kering yang diterima dari pemotong rumput bernama Sotthiya. Di tempat itulah Pertapa Gotama duduk bermeditasi dengan wajah menghadap ke Timur. Dengan tekad yang bulat, ia kemudian berkata dalam hati,
“Dengan disaksikan oleh bumi, meskipun kulitku, urat-uratku dan tulang-tulangku akan musnah dan darahku habis menguap, aku bertekad untuk tidak bangun dari tempat ini sebelum memperoleh Penerangan Agung dan mencapai Nibbana.”
Kemudian Pertapa Gotama melakukan meditasi Anapanasati, yaitu meditasi dengan menggunakan obyek keluar dan masuknya nafas. Tidak berapa lama pikiran-pikiran yang tidak baik mengganggu batinnya, seperti keinginan kepada benda-benda duniawi, tidak menyukai kehidupan suci yang bersih dan baik, perasaan lapar dan haus yang luar biasa, keinginan yang sangat dan melekat kepada benda-benda, malas dan tidak suka mengerjakan apa-apa, takut terhadap jin-jin, hantu-hantu jahat, keragu-raguan, kebodohan, keras kepala, keserakahan, keinginan untuk dipuji dan dihormati dan hanya melakukan hal-hal yang membuat dirinya terkenal, tinggi hati dan memandang rendah kepada orang lain.
Perjuangan hebat dalam batin Pertapa Gotama melawan keinginan dan nafsu-nafsu tidak baik, dalam buku-buku suci digambarkan sebagai perjuangan melawan Dewa Mara yang jahat, seperti dapat diikuti dalam pembabaran berikut ini.
Pada saat itu muncul Mara, dewa hawa nafsu, yang bermaksud menghalang-halangi Pertapa Gotama memperoleh Penerangan Agung, disertai bala tentaranya yang maha besar. Bala tentara itu ke depan, ke kanan dan ke kiri, lebarnya 12 league dan ke belakang sampai ke ujung cakrawala, sedangkan tingginya 9 league. Mara sendiri membawa berbagai macam senjata dan duduk di atas gajah Girimekhala yang tingginya 150 league. Melihat bala tentara yang demikian besar datang, semua dewa yang sedang berkumpul di sekeliling Pertapa Gotama, seperti Maha-Brahma, Sakka, Rajanaga Mahakala dan lain-lain cepat-cepat menyingkir dari tempat itu dan Pertapa Gotama ditinggal sendirian dengan hanya berlindung kepada sepuluh Paramita yang sejak lama dilatihnya. Semua usaha Mara untuk menakut-nakuti Pertapa Gotama dengan hujan besar disertai angin kencang dan halilintar yang berbunyi tak henti-hentinya diikuti dengan pemandangan-pemandangan lain yang mengerikan ternyata gagal semua dan akhirnya Mara menyambit dengan Cakkavudha yang ternyata berubah menjadi payung yang dengan tenang bergantung dan melindungi kepala Pertapa Gotama.
Bumi telah menjadi saksi bahwa Pertapa Gotama lulus dari semua percobaan-percobaan dan layak untuk menjadi Buddha. Gajah Girimekhala berlutut di hadapan Pertapa Gotama dan Mara menghilang dan lari bersama-sama dengan bala tentaranya. Para dewa yang menyingkir sewaktu Mara tiba dengan bala tentaranya datang kembali dan semua bersuka cita dengan keberhasilan Pertapa Gotama.
Setelah berhasil mengalahkan Mara, Pertapa Gotama memperoleh Pubbenivasanussatiñana, yaitu kebijaksanaan untuk dapat melihat dengan terang kelahiran-kelahiranNya yang dulu.
Hal ini terjadi pada waktu jaga pertama, yaitu antara jam 18.00-22.00. Pada waktu jaga kedua, yaitu antara jam 22.00-02.00, Pertapa Gotama memperoleh Cutupapatañana, yaitu kebijaksanaan untuk dapat melihat dengan terang kematian dan tumimbal lahir kembali dari makhluk-makhluk sesuai dengan tumpukan karma mereka masing-masing. Tumpukan karma yang berlainan inilah yang membuat satu makhluk berbeda dari makhluk lain. Kemampuan ini juga dinamakan Dibbacakkhuñana, yaitu kebijaksanaan dari Mata Dewa. Pada waktu jaga ketiga, yaitu antara jam 02.00-04.00 pagi, Pertapa Gotama memperoleh Asavakkhayañana, yaitu kebijaksanaan yang dapat menyingkirkan secara menyeluruh semua Asava (kekotoran batin yang halus sekali).
Dengan demikian Ia mengerti sebab dari semua keburukan dan juga mengerti cara untuk menghilangkannya. Dengan ini Ia telah menjadi orang yang paling bijaksana dalam dunia yang dapat menjawab pertanyaan yang disampaikan kepadaNya. Sekarang Ia mendapat jawaban tentang cara untuk mengakhiri penderitaan, kesedihan, ketidakbahagiaan, usia tua dan kematian. Batin-Nya menjadi tenang sekali dan penuh kedamaian karena sekarang Ia mengerti semua persoalan hidup dan Ia telah menjadi Buddha. Dengan muka bercahaya terang, penuh kebahagiaan, Pertapa Gotama dengan suara lantang mengeluarkan pekik kemenangan sebagai berikut:
“Anekajati samsaram
Sandhavissam anibbissam
Gahakarakam gavesanto
Dukkha jati punappunam
Gahakaraka! dittho’si
Punageham na kahasi
Sabba to phasuka bhagga
Gahakutam visamkhitam
Visamkharagatam cittam
Tanhanam khayamajjhaga.”
Artinya :
“Dengan sia-sia Aku mencari Pembuat Rumah ini
Berlari berputar-putar dalam lingkaran tumimbal lahir
Menyakitkan, tumimbal lahir yang tiada habis-habisnya
Oh, Pembuat Rumah, sekarang telah Kuketahui
Engkau tak akan dapat membuat rumah lagi
Semua atapmu telah Kurobohkan
Semua sendi-sendimu telah Kubongkar
Batin-Ku sekarang mencapai keadaan Nibbana
Dan berakhirlah semua nafsu-nafsu keinginan.”
Dikisahkan bahwa pada saat itu bumi bergetar karena gembira dan di udara sayup-sayup terdengar suara musik yang merdu, seluruh tempat itu penuh dengan kehadiran para dewa yang turut bergembira dan ingin melihat orang yang berhasil mencapai Penerangan Agung dan menjadi Buddha, pohon-pohon mendadak berbunga dan menyebarkan bau harum ke seluruh penjuru, binatang hutan yang biasanya saling bermusuhan pada waktu itu dapat hidup berdampingan dengan damai.
Demikianlah Pangeran Siddhattha yang dilahirkan pada saat purnama sidhi di bulan Vaisak tahun 623 S.M, menikah pada usia 16 tahun, meninggalkan istana pada usia 29 tahun, setelah bertapa selama 6 tahun menjadi Buddha pada usia 35 tahun.

Bagian 1 : PANGERAN SIDDHARTA MENINGGALKAN ISTANA

Dalam rangka memperingati hari Pelepasan Agung Sakyamuni Buddha yang jatuh pada hari Minggu, 5 Februari 2017 (Lunar tanggal 8 bulan 2), Cetya Tathagata Jakarta akan memberikan artikel mengenai kisah Pelepasan Agung Sakyamuni Buddha yang akan terbagi menjadi 3 artikel
Bagian 1 : Pangeran Siddharta Meninggalkan Istana
Bagian 2 : Bertapa Di Hutan Uruvela
Bagian 3 : Penerangan Agung
Bagian 1 : PANGERAN SIDDHARTA MENINGGALKAN ISTANA
Untuk menyambut kelahiran cucunya, Raja menyelenggarakan satu pesta yang besar dan meriah. Tetapi Pangeran kelihatan tidak gembira. Pangeran dengan hati-hati mendekati Raja dan mohon izin untuk mencari obat terhadap usia tua, sakit, dan mati. Hal ini menimbulkan amarah Raja.
Izin tidak diberikan seperti dapat kita ikuti dalam percakapan di bawah ini (dikutip dari buku Mahavastu II, halaman 141/2).
“Ayah, kalau tidak diberi izin saya mohon Ayah berkenan memberikan kepadaku delapan macam anugerah.”
“Tentu saja, anakku, aku lebih baik turun tahta daripada tidak meluluskan permintaanmu.”
“Kalau begitu, mohon Ayah memberikan kepadaku:
- Anugerah supaya tidak menjadi tua.
- Anugerah supaya tidak sakit.
- Anugerah supaya tidak mati.
- Anugerah supaya Ayah tetap bersamaku.
- Anugerah supaya semua wanita yang ada di istana bersama sama dengan kerabat lain tetap hidup.
- Anugerah supaya kerajaan ini tidak berubah dan tetap seperti sekarang.
- Anugerah supaya mereka yang pernah hadir pada pesta kelahiranku dapat memadamkan semua nafsu keinginannya.
- Anugerah supaya aku dapat mengakhiri kelahiran, usia tua, dan mati.”
Mendengar pernyataan di atas, Raja Suddhodana menjadi kaget dan kecewa. Raja menjawab bahwa hal-hal di atas itu berada di luar kemampuannya dan masih mencoba untuk membujuknya dengan mengatakan, “Anakku, usiaku sekarang sudah lanjut. Tunggu saja dan tangguhkan kepergianmu sampai aku sudah mangkat.”
“Ayah, relakan kepergianku justru sewaktu Ayah masih hidup. Aku berjanji bila sudah berhasil, akan kembali ke Kapilavatthu untuk mempersembahkan obat yang telah kutemukan ke hadapan Ayah. ”
Raja tetap tidak memberikan izinnya dan Pangeran tetap bersikeras untuk terus melaksanakan cita-citanya. Pangeran kemudian memasuki kamar Yasodhara dan memandangi anaknya dengan gembira dan terharu karena tidak lama lagi Beliau akan meninggalkannya berhubung tekadnya yang sudah bulat untuk mencari obat agar orang tidak menjadi tua, sakit, dan mati.
Selanjutnya Pangeran masuk ke ruangan tempat para penari sedang menari diiringi musik yang merdu. Pangeran merebahkan diri di atas bantal yang dibuat dari benang-benang emas dan karena letih, tidak lama kemudian Pangeran tertidur. Para penari menghentikan tariannya dan mereka pun ikut tidur di ruangan yang sama sambil menunggui Pangeran. Pada tengah malam, Pangeran terbangun dan memandang ke sekelilingnya. Pangeran melihat gadis-gadis penari tergeletak tidur simpang siur di lantai dalam sikap yang beraneka ragam, ada yang terlentang, ada yang tengkurap, ada yang mulutnya menganga lebar, ada yang air liurnya meleleh keluar, ada yang menggulung tubuhnya sambil kepalanya terantuk-antuk di dadanya, ada yang mengigau, dan lain-lain. Pangeran merasa seperti di pekuburan dengan mayat-mayat yang bergelimpangan. Pemandangan ini membuat Pangeran jijik dan muak sekali, sehingga Beliau mengambil keputusan untuk meninggalkan istana pada malam itu juga.
Pangeran memanggil Channa dan memerintahkan untuk menyiapkan Kanthaka, kuda kesayangannya. Pangeran kemudian pergi ke kamar Yasodhara untuk melihat istri dan anaknya sebelum pergi untuk bertapa. Istrinya sedang tidur nyenyak dan memeluk bayinya. Tangannya menutupi muka Sang bayi, sehingga muka bayi tidak dapat terlihat. Pangeran semula ingin menggeser sedikit tangan istrinya tetapi hal itu diurungkan karena takut kalau hal ini menyebabkan Yasodhara terbangun dan rencananya untuk meninggalkan istana bisa gagal. Pangeran hanya berkata dalam hati, “Tidak, biarlah hari ini aku tidak melihat wajah anakku, tetapi nanti setelah aku memperoleh apa yang kucari, aku akan datang kembali dan dengan puas dapat melihat wajah anak dan istriku.”
Setelah itu Pangeran meninggalkan istana dengan menunggang Kanthaka yang berbulu putih diikuti oleh Channa yang memegang buntut kuda. Seolah-olah sudah diatur terlebih dulu oleh para dewa, Pangeran Siddhattha tidak mendapat kesukaran sewaktu hendak keluar dari pintu gerbang istana dan waktu hendak keluar dari pintu tembok kota. Para pengawalnya semua sedang tidur nyenyak dan Channa dengan mudah dapat membuka pintu agar Pangeran dapat keluar dari istana dan keluar kota. Ketika itu Pangeran dicegat oleh Dewa Mara yang jahat dan membujuknya untuk kembali ke istana dan ia berjanji bahwa dalam waktu satu minggu, Pangeran akan menjadi Raja negara Sakya. Pangeran tidak menggubris bujukan Dewa Mara, yang membuat Dewa Mara menjadi marah dan mengancam akan terus membuntutinya.
Setelah sampai di luar kota, Pangeran berhenti sejenak dan memutar kudanya untuk melihat kota Kapilavatthu untuk terakhir kali (di tempat itu kemudian didirikan sebuah cetiya yang dinamakan Kanthakanivattana-cetiya). Saat itu terang bulan di bulan Asalha dan Pangeran berusia 29 tahun. Perjalanan diteruskan melintasi perbatasan negara Sakya, Koliya, dan Malla, kemudian dengan satu kali loncatan menyeberangi Sungai Anoma. Pangeran turun dari kuda, melepas semua perhiasannya dan memberikannya kepada Channa, mencukur kumisnya, memotong rambut di kepalanya dengan pedang dan melemparkannya ke udara (yang disambut oleh Dewa Sakka dan membawanya ke surga Tavatimsa untuk dipuja di Culamani-cetiya). Rambut yang tersisa sepanjang dua anguli (± dua inci) semasa hidupnya tetap sepanjang itu dan tidak tumbuh-tumbuh lagi.
Selanjutnya, Brahma Chatikara mempersembahkan keperluan seorang bhikkhu kepada Pangeran yang terdiri dari delapan jenis barang, yaitu: jubah luar, jubah dalam, kain bawah, ikat pinggang, mangkuk makanan, pisau, jarum, dan saringan air. Setelah menukar pakaiannya dengan jubah bhikkhu, Pangeran memerintahkan Channa untuk kembali ke istana.
“Tidak ada gunanya hamba diam terus di istana tanpa Tuanku. Perkenankanlah hamba ikut Tuanku berkelana.”
“Jangan Channa, bawa pakaian dan perhiasan ini kembali, berikan kepada Ayahku dan sampaikan pesanku untuk Ayah, Ibu, dan Yasodhara untuk jangan terlalu bersusah hati. Aku akan mencari obat untuk menghentikan usia tua, sakit, dan mati. Segera setelah aku memperolehnya, aku kembali ke istana untuk memberikannya kepada Ayah, Ibu, Yasodhara, Rahula, dan kepada semua orang yang ada di dunia ini.”
Channa memberi hormat kepada Pangeran dan bersiap-siap untuk kembali. Tetapi Kanthaka tidak mau diajak pergi. Pangeran mendekati Kanthaka, mengusap-usap dan menepuk-nepuk lehernya dengan penuh kasih sayang sambil berkata, “Ayolah, Kanthaka, ikutlah pulang dengan Channa dan jangan menunggu aku lagi.” Kanthaka ikut dengan Channa tetapi belum seberapa jauh berjalan, kuda itu berhenti dan menengok lagi ke belakang agar dapat melihat wajah Pangeran untuk terakhir kali. Kuda itu nampaknya sedih sekali dan matanya basah dengan air mata.
Kembalinya Channa bersama Kanthaka (tanpa Pangeran) ke Kapilavatthu disambut oleh Raja dan seluruh penghuni istana dengan ratapan dan tangisan. Yasodhara memeluk leher Kanthaka dan bertanya, “Oh, Kanthaka, kesalahan apakah yang telah kuperbuat terhadapmu dan Channa, sehingga engkau berdua membawa pergi Tuanku Pangeran sewaktu aku sedang tidur nyenyak?” Hal ini membuat Kanthaka sedih dan patah hati. Channa menyerahkan perhiasan, pedang serta pakaian Pangeran kepada Baginda Raja, menyampaikan salam perpisahan Pangeran kepada Ibunya dan Yasodhara beserta segenap keluarga lainnya. Selanjutnya Channa memberitahukan bahwa Pangeran sekarang berada di tepi Sungai Anoma di negara Malla.
Meskipun menyesali kepergian Pangeran Siddhattha, tetapi Raja tahu bahwa kepergiannya itu sesuai dengan ramalan pertapa Asita dan Kondañña dan mengharap-harap cemas bila kiranya Pangeran akan berhasil menjadi seorang Buddha. Mulai hari itu Raja selalu mengikuti keadaan Pangeran dengan menyuruh orang menyelidiki dan melaporkan kepada Raja segala sesuatu yang dikerjakan Pangeran dan dimana Beliau berada.

Rabu, 12 April 2017

KISAH BHAISAJYAGURU BUDDHA & 12 PANGLIMA YAKSA (THE 12 HEAVENLY GENERALS / 十二神将) - BAGIAN 1

Dalam rangka awal tahun Imlek 2568 tahun Ayam Api, Cetya Tathagata Jakarta akan mempersembahkan Kisah Bhaisajyaguru Buddha beserta dengan 12 Panglima Yaksa (The 12 Heavenly Generals / 十二神将) Pelindung Pintu Dharma Bhaisajyaguru Buddha dan Pelindung 12 Shio yang akan terbagi menjadi 4 bagian kisah.
KISAH BHAISAJYAGURU BUDDHA & 12 PANGLIMA YAKSA (THE 12 HEAVENLY GENERALS / 十二神将) - BAGIAN 1
Bhaisajyaguru (भैषज्यगुरु), secara resmi Bhaiṣajyaguruvaidūryaprabharāja (भैषज्यगुरुवैडूर्यप्रभाराज) / Guru Pengobatan dan Raja Cahaya Lapis Lazuardi adalah adalah salah satu dari ketiga Buddha utama dalam objek pemujaan Mahayana dan merupakan seorang Buddha dari masa lalu. Lebih dikenal sebagai Buddha Pengobatan atau Guru Penyembuhan. Beliau sangat dekat di hati pemujanya karena banyak diantara mereka yang benar-benar telah menerima berkah-Nya dalam bentuk penyembuhan ajaib dari berbagai penyakit.
Sutra Buddha Pengobatan (Bhaisajya Sutra) yang juga diterjemahkan ke dalam bahasa Mandarin pada masa itu, memberikan gambaran yang lengkap tentang Buddha tanpa bandingan itu, tanah Buddha dan ke-12 Ikrar Agung-Nya. Sekalipun demikian, sutra yang diterje­mahkan oleh Guru Tripitaka Hsuan Tsang (bhiksu yang terkenal dari dinasti T'ang) kemudian dan dikenal sebagai Sutra Guru Penyembuhan (Bhaisajyaguru-Vaidurya-Prabhasa-Tathagatha) menjadi lebih terkenal dan dibaca oleh kebanyakan orang di masa ini.
Sewaktu masih menjadi Bodhisattva, Beliau membuat 12 Ikrar Agung untuk membebaskan makluk hidup dari belenggu Karma. Beliau berikrar untuk melindungi kemajuan mereka kearah penerangan, membantu mereka memegang larangan, membebaskan mereka dari perangkap praktek keagamaan yang menyimpang dan doktrin palsu, memberikan makanan dan minuman kepada mereka yang lapar, memulihkan tubuh yang cacat, menolong mereka yang akan dihukum mati dan membimbing mereka ke arah kehidupan yang tenang dan berbahagia. Dari ke-12 Ikrar-Nya, Ikrar ke-7 secara khusus menjamin untuk membebaskan manusia dari penyakit badaniah dan mengusir kebingungan spiritual sehingga Beliau dijuluki 'Tabib Jiwa.'
Sejak jaman dahulu upacara pembuatan altar Bhaisajya Guru Buddha telah dikenal di India, Tibet, Nepal, dan Tiongkok sejak abad 3 Masehi. Namun, hal itu sudah sangat jarang dilakukan saat ini karena merupakah ritual puja yang sangat khusus dan juga karena pembuatan altar ini memakan biaya yang cukup besar. Cara pembuatan altar ini diambil berdasarkan penjabaran dari Sutra Bhaisajya Guru Vaidurya Prabhasa Tathagatha, atau dikenal sebagai Sutra dari Guru Penyembuhan. Banyak manfaat yang diperoleh dalam membangun altar ini, antara lain dapat mendoakan orang yang sakit, sedang menderita, terkena musibah, dilanda malapetaka, atau orang yang menderita kemiskinan, dan juga orang yang sudah lama sakit seperti terkena ilmu hitam /guna-guna, dan juga orang yang bisu, tuli, bungkuk, gila, agar jika dapat mendengar nama dan membaca nama Tathagatha Bhaisajya Guru Sutra selama 7 hari, maka niscaya mereka akan sembuh, segala penyakit hilang, segala penderitaan lenyap, berubah menjadi sehat, dan dapat memperpanjang usia, serta terlepas dari kesengsaraan dan hidup bahagia.
Dibawah altar Bhaisajyaguru Buddha selalu dikelilingi oleh 12 Panglima Yaksa (The 12 Heavenly Generals / 十二神将) yang selalu bertekad untuk melindungi orang – orang yang menjalankan pelatihan diri seperti yang dilakukan oleh Bhaisajyaguru Buddha dalam mencapai kesempurnaan. 12 Panglima Yaksa adalah pelindung Pintu Dharma Bhaisajyaguru Buddha, mereka adalah panglima yang memimpin 7000 pasukan Yaksanya. 12 Panglima Yaksa yang pada umumnya dipasang dialtar Bhaisajyaguru Buddha juga dikenal sebagai yaksa yang melindungi 12 shio dari orang-orang yang terlahir pada waktu tersebut.
12 Panglima Yaksa tersebut adalah sebagai berikut:
1. Panglima Yaksa Catura
2. Panglima Yaksa Vikara / Vikalara
3. Panglima Yaksa Khumbira
4. Panglima Yaksa Vajra
5. Panglima Yaksa Mekhila / Mihira
6. Panglima Yaksa Antila / Andira
7. Panglima Yaksa Anila
8. Panglima Yaksa Shantila / Shandila
9. Panglima Yaksa Intala / Indra
10. Panglima Yaksa Payila / Pajra
11. Panglima Yaksa Mahura
12. Panglima Yaksa Cindalla / Kindara
Berikut adalah ke-12 Panglima Yaksa berdasarkan urutan shio masing-masing:
*bersambung ke Bagian 2*

Riwayat Dipankara Buddha / Ran Deng Fo / 燃燈佛 / མར་མེ་མཛད།

Dalam rangka menyambut HUT dari Dipankara Buddha yang jatuh pada esok hari Kamis, 02 Februari 2017 (Lunar tanggal 06 bulan 01), Cetya Tathagata Buddha akan memberikan kisah riwayat Dipankara Buddha.
Riwayat Dipankara Buddha / Ran Deng Fo / 燃燈佛 / མར་མེ་མཛད།
Dipankara dalam bahasa sansekerta mempunyai makna "Burning Lamp" / "Lamp Bearer" yang mempunyai arti "Pelita Yang Menyala" / "Pembawa Pelita" Oleh karena itu Buddha Dipankara mempunyai makna "Buddha Pembawa Pelita" / "Buddha Pelita Yang Menyala".
Menurut legenda, Buddha Dipankara terlahir pada malam hari. Pada saat Beliau lahir, tubuh-Nya memancarkan sinar yang menerangi seisi ruangan menyebabkan satu ruangan penuh dengan cahaya yang terang benderang. Oleh karena itu, kedua orang tuanya menamakan-Nya Dipankara.
Pada kelahiran sebelumnya, Buddha Shakyamuni adalah pengikut yang sangat taat dari Buddha Dipankara. Dahulu, Shakyamuni Buddha pernah mempersembahkan setangkai bunga teratai yang mempunyai 5 kelopak kepada Buddha Dipankara. Menurut Sutra Sadharmapundarika, bunga teratai adalah suatu bunga yang sangat suci dalam ajaran Buddha dan merupakan simbol dari kemurnian dan keindahan dari ajaran Buddha. Lalu, bunga teratai dengan 5 helai kelopak adalah sesuatu yang sangat jarang ditemukan / dilihat dimana mana, merupakan bunga yang sangat langka. Buddha Dipankara demikian senangnya atas persembahan tersebut dan lalu bernubuat bahwa seorang Shakyamuni akan mencapai pencerahan sempurna setelah 91 kalpa dan akan menanggung nama Shakyamuni.
Buddha Dipankara diperhitungkan sebagai guru bagi Buddha Shakyamuni di dalam garis suksesi Shakyamuni mencapai pencerahan sempurna sebagai Buddha dan juga disebut sebagai "Buddha Masa Lampau". Ada banyak sekali kuil / vihara yang menahbiskan atau memberi penghormatan kepada "Para Buddha Dari Tiga Masa" yang diabadikan sebagai Dipankara Buddha (di sisi kiri), Shakyamuni Buddha (di tengah) dan Maitreya Buddha (di sisi kanan). Mereka disebut "Para Buddha Dari Tiga Masa" yang me-representasikan "Tiga Masa" yaitu "Masa Lampau, Masa Kini dan Masa Depan".
Dipankara Buddha secara umum digambarkan sebagai sosok Buddha yang sedang duduk, namun penggambarannya sebagai sosok Buddha yang sedang berdiri umum di Tiongkok, Thailand, dan Nepal. Dengan tangan kanan-Nya yang secara umum membentuk "Mudra Perlindungan" / "Abhaya Mudra" dan seringkali membentuknya dengan kedua tangan-Nya.

KISAH PENCAPAIAN PENCERAHAN SEMPURNA SAKYAMUNI BUDDHA - SANG BUDDHA MEMBABARKAN DHARMA (BAGIAN 3 - AKHIR)

Dalam rangka memperingati hari dari Sakyamuni Buddha mencapai pencerahan yang jatuh pada hari Kamis 05 Januari 2017 (Lunar tanggal 08 bulan 12), Cetya Tathagata Jakarta akan memberikan artikel mengenai Sakyamuni Buddha yang akan terbagi menjadi 3 bagian.
KISAH PENCAPAIAN PENCERAHAN SEMPURNA SAKYAMUNI BUDDHA - SANG BUDDHA MEMBABARKAN DHARMA (BAGIAN 3 - AKHIR)
Karena memiliki welas asih yang besar bagi semua makhluk. Sang Buddha pergi keseluruh India Utara dengan berjalan kaki membabarkan empat kebenaran mulia yang merupakan ajaran dari pengalaman beliau untuk masyarakat di setiap tingkat. Banyak orang yang dapat mengerti dengan jelas dan menemukan kebenaran dari khotbah beliau yang istimewa. Karena mengerti dengan jelas tentang kebenaran banyak yang mencapai kesucian seperti beliau. Selanjutnya beliau juga mentahbiskan mereka sebagai bhikkhu. Dan setelah melatih diri dengan baik dan benar, mereka ditugaskan membabarkan Dhamma keseluruh India untuk membabarkan ajaran baru (pada zaman sang Budha). Pembabaran Dhamma yang sempurna setelah sembilan bulan beliau mencapai kesempurnaan, beliau memiliki 1250 murid yang semuanya mencapai tingkat kesucian tertinggi yang membantu beliau membabarkan ajaran kedamaian yang universal.
Sang Buddha dan murid tidak menuliskan ajaranNya di atas material apapun. Sistem huruf sudah ada pada masa itu, namun orang banyak lebih berkeyakinan dengan mendengar Dhamma yang dibabarkan dan menganggap bila dituliskan menjadi rendah dan tidak murni lagi. Ajaran beliau tinggal dan tersimpan di dalam batin, ingatan menjadi satu-satunya tempat menyimpan ajaran.
Dalam kasus awal perkembangan agama Buddha, Sang Buddha memiliki dua murid terkenal. Memiliki kekuatan khusus dalam ingatan yang menyimpan ajaran Sang Buddha. Kedua bhikkhu itu adalah :
- Ananda sebagai pembantu utama Sang Buddha. Diberi tugas sebagai pengulang ajaran filsafat dan moral.
- Upali yang diberi tugas sebagai pengulang Sila dan Vinaya (peraturan para bhikkhu) yang Sang Buddha tanamkan berulang kali.
Sang Buddha mencapai parinibbana setelah membabarkan ajaran Dhamma dengan penuh semangat selama 45 tahun. Beliau meninggalkan sebuah organisasi Saṅgha yang baik, dengan peraturan yang baik untuk membabarkan ajaran Dhamma bagi generasi selanjutnya.
Sumber : Pustaka Dhamma

KISAH PENCAPAIAN PENCERAHAN SEMPURNA SAKYAMUNI BUDDHA - MENCAPAI PENERANGAN SEMPURNA (BAGIAN 2)

Dalam rangka menyambut hari dari Sakyamuni Buddha mencapai pencerahan yang jatuh pada hari ini Kamis 05 Januari 2017 (Lunar tanggal 08 bulan 12), Cetya Tathagata Jakarta akan memberikan artikel mengenai Sakyamuni Buddha yang akan terbagi menjadi 3 bagian.
KISAH PENCAPAIAN PENCERAHAN SEMPURNA SAKYAMUNI BUDDHA - MENCAPAI PENERANGAN SEMPURNA (BAGIAN 2)
Setelah berhenti dari praktek menyiksa diri, pertapa Gotama merasa bahwa beliau ada di jalan buntu. Saat sedang merenung bagaimana jalan selanjutnya, beliau ingat salah satu kejadian di dalam hidupNya. Ketika berusia 7 tahun beliau pergi bersama ayahandanya ke pesta upacara membajak sawah di luar kota. Saat upacara berlangsung, pangeran muda ini ditinggal sendiri di bawah pohon oleh para pengawalnya yang asyik menyaksikan pesta. Tidak tahu apa yang harus dikerjakan pangeran muda ini mulai melihat keluar dan masuknya nafas sendiri. Batin beliau menjadi tenang dan damai, menjadi pengalaman yang luar biasa dan gaib, yang tidak pernah dialami. Beliau berfikir bahwa bila cara ini saya coba lagi apa yang akan terjadi.
Samana Gotama akhirnya mulai melihat keluar dan masuknya nafas. Tidak lama kemudian beliau mengalami pengalaman yang sama, batin mulai melembut, tenang dan bercahaya. Saat meditasi yang dalam beliau mulai dapat melihat kehidupan-kehidupan yang lampau dengan jelas di dalam batinNya. Juga mengingat kejadian-kejadian masa lampau, bukan hanya satu masa tetapi ratusan ribu kelahiran sebelumnya. Beliau mampu mengingat semua kejadian itu dengan terang.
Pukul 02.00 pagi samana Gotama melihat kehidupan makhluk lain, kelahiran dan kematiannya akibat kamma-kamma lampaunya dengan jelas. Kemudian juga Beliau dapat melihat :
- Tumimbal lahir dari makhluk lain
- Alam-alam lain di alam semesta
- Menemukan hukum kamma yang mengendalikan kehidupan para makhluk
- Menemukan tanha dua jenis, lebih dari yang pernah beliau temukan, yaitu Bhava Tanha dan Vibhava Tanha.
- Menemukan Paticcasamupada : Suatu kebenaran dari proses sebab akibat yang saling berhubungan. Dan penyebab itu tidak hanya satu.
- Memperoleh prinsip Anatta (Tanpa inti)
Setelah mengetahui proses yang terus menerus dari kelahiran dan kematian sendiri dan makhluk lain. Samana Gotama mempunyai batin yang terbebas dari saṁsara sejak saat itu beliau menjadi Buddha yang Maha Tahu, yang telah Bangun dan Sadar, batinNya juga dipenuhi empat kekuatan :
1. Tahu yang benar.
2. Maha suci
3. Damai dan tenang
5. Welas asih yang paling besar.
Sumber : Pustaka Dhamma

KISAH PENCAPAIAN PENCERAHAN SEMPURNA SAKYAMUNI BUDDHA - AWAL DAN TITIK BALIK KEHIDUPAN (BAGIAN 1)

Dalam rangka menyambut hari dari Sakyamuni Buddha mencapai pencerahan yang jatuh pada hari Kamis 05 Januari 2017 (Lunar tanggal 08 bulan 12), Cetya Tathagata Jakarta akan memberikan artikel mengenai Sakyamuni Buddha yang akan terbagi menjadi 3 bagian.
KISAH PENCAPAIAN PENCERAHAN SEMPURNA SAKYAMUNI BUDDHA - AWAL DAN TITIK BALIK KEHIDUPAN (BAGIAN 1)
Sang Buddha menjadi salah seorang di dalam sejarah yang hidup dengan berkarya di India Utara VI abad sebelum Kristus. Di dalam ajaran Theravada beliau lahir 623 tahun sebelum Kristus dan wafat (Parinibbana) 543 tahun sebelum Kristus pada usia 80 tahun. Beliau adalah pewaris tahta (Pangeran) Putra Raja “Suddhodana” dari sebuah kerajaan kecil yaitu kerajaan “Sakka” di kaki gunung Himalaya (sekarang menjadi bagian dari negara Nepal dan terletak di bagian Utara India). Beliau bernama kecil Siddhattha (Siddhartha yang berarti tercapailah cita-cita) dan nama keluarganya adalah Gotama.
Kata “Buddha” bukan sebuah nama tetapi merupakan sebuah gelar yang berarti “Orang yang mencapai penerangan sempurna”. Di India orang-orang menyebutnya sebagai Pertapa Gotama. Umat Buddha menyebut Beliau dengan sebutan Sang Bhagava atau Bhagava Buddha. Beliau menyebut dirinya sendiri dengan sebutan Tathagata. Umat Buddha Mahayana menyebutnya dengan sebutan Sakyamuni atau Sakyamuni Buddha. Para cendikiawan dari Barat menyebutnya dengan sebutan Buddha atau Buddha Gotama.
Kapilavatthu adalah ibu kota dari wilayah bagian Sakka yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Kosala, salah satu Negara yang memiliki kekuasaan di bagian selatan.
Pangeran Siddhattha lahir di bawah sebuah pohon di Taman Lumbini. Kejadian istimewa ini terjadi pada saat Ratu Mahamaya sedang melakukan perjalanan dengan para dayang dan pengawalnya menuju kota Devadaha, yang merupakan kota tempat orang tua Ratu Mahamaya tinggal. Ratu Mahamaya, ibunda beliau meninggal tujuh hari setelah beliau dilahirkan. Pangeran Siddhattha termasuk ke dalam kasta Ksatria.
Seperti pendiri agama yang lain, Sang Buddha terlahir penuh dengan keajaiban dari sejak beliau lahir sampai meninggalnya. Beliau merupakan manusia sempurna yang memiliki 32 tanda dari manusia sempurna dan memiliki kebijaksanaan tinggi. Beliau menjadi harapan suku Sakya untuk menjadi pemimpin bangsanya. Untuk mempersiapkanNya menjadi seorang pemimpin, ayahnyamendatangkan guru-guru terbaik untuk mengajariNya. Beliau hidup nyaman dan bahagia dan mendapatkan sesuatu yang terbaik layaknya seorang Pangeran. Beliau menikah dengan seorang putri cantik yang bernama Yasodhara pada usia muda.
Pangeran Siddhattha adalah pemuda yang memiliki sifat senang mendalami agama dan filsafat yang tinggi. Saat beliau keluar dari istana untuk melihat negerinya, beliau bertemu dengan satu orang tua. Beliau heran dan berfikir mengapa orang dapat menjadi tua seperti itu ? Beliau kembali ke istana dan merasa semuanya berubah dan cara pandang beliau berganti. Pergi kedua kali beliau melihat satu orang sakit. Setelah melihat hal ini, pikirannya pun semakin berat merenungkan kehidupan ini. Pergi yang ketiga kalinya beliau melihat kematian. Dalam pikiran beliau mulai timbul kebosanan dan ketidak bahagiaan pada kehidupan. Beliau menjadi sadar dan mengerti bahwa hidup kita ini tidak sempurna dan tidak kekal.
Tidak lama setelah itu, istri beliau melahirkan seorang putra. Yaitu Pangeran Rahula yang artinya belenggu. Tetapi beliau tidak merasa bahagia dengan kejadian yang membahagiakan itu. Pangeran Siddhattha menganggap bahwa ini merupakan awal penderitaan. Karena adanya kelahiran merupakan awal dari usia tua, kesakitan dan kematian.
Pangeran Siddhattha ingin mengetahui adakah keadaan yang terbebas dari kelahiran, usia tua, sakit dan kematian ? Pangeran Siddhattha yakin sesungguhnya pasti ada keadaan yang terbebas dari semua itu. Dan saat itu beliau ingin tahu jalan yang benar untuk bebas dari keadaan itu bagaimana dan berkeinginan mencari jalan itu dengan sungguh-sungguh. Satu hari beliau pergi melihat negerinya dan melihat seorang pertapa yang duduk tenang di bawah sebuah pohon. Melihat hal itu beliau merasa bahagia sekali dan timbul satu keyakinan inilah jalan terbebas dari penderitaan.
Saat beliau berusia 29 tahun beliau mengambil keputusan meninggalkan hidup keduniawian. Menjadi seorang samana. Mendapatkan larangan yang keras dari ayahnya. Namun karena konflik dalam batinnya semakin keras selanjutnya beliau tetap pergi untuk mencari jalan lenyapnya penderitaan.
Beliau belajar dan praktek pada guru-guru terkenal dalam masa itu, tetapi tidak puas dengan ajaran-ajaran tersebut karena melihat masih ada penderitaan yang sama. Sekarang masih tersisa satu ajaran dari guru yang mengajari penyiksaan diri yang keras. Beliau menyiksa diri sendiri dengan segala macam cara, seperti yang ada dalam kitab suci kuno. Cara terakhir adalah dengan berpuasa. Beliau tidak makan selama 40 hari. Pertapa Gotama menghentikan praktek itu karena mengerti itu bukan jalan untuk bebas dari penderitaan.
Sumber : Pustaka Dhamma

Selasa, 11 April 2017

ASAL USUL DAN KISAH Ji Gong Huo Fo 濟公活佛 bagian 4

ASAL USUL DAN KISAH Ji Gong Huo Fo 濟公活佛 bagian 4
Ji Gong Huo Fo, adalah seorang pendeta Buddha dari aliran Tiantai 天臺 yang hidup pada jaman dinasti Song 南宋(960 - 1279 M). Sebelum menjadi pendeta, Ji Gong (Ce Kong - Hokkian) adalah anak tunggal seorang hartawan, nama aslinya adalah Li Xiu Yan 李修元 , Li Xiu Yan akhirnya ditabiskan menjadi pendeta di kelenteng Ling Yun Si di tepi telaga Xi-hu di kota Hangzhou 杭州西湖靈隱寺, dan bergelar Dao Ji 道濟 Untuk mempermudah pelaksanaan cita-citanya dalam menjalankan "Dharma", ia selalu bertingkah ugal -ugalan dan ganjil.
Kegemarannya adalah minum arak dan makan
daging anjing, wataknya mulia, jujur, jenaka,
ringan tangan dalam membantu orang - orang
yang menderita. Yang dimusuhinya terutama
adalah pembesar - pembesar yang sering
menyalahgunakan kekuasaannya, sewenang -
wenang terhadap rakyat jelata dan orang - orang kaya yang jahat dan kikir.
Dia adalah pendekar budiman pujaan rakyat
jelata, karena itu orang memanggiinya Huo Fo 活 佛(Wa Hud - Hokkian) yang berarti Buddha Yang Hidup. Karena tingkah lakunya yang gila - gilaan, Dao Ji disebut orang sebagai "Ji Dian" 濟顛, atau "Ji yang gila". Tapi oleh pemujanya ia dipangil dengan panggilan akrab yaitu Ji Gong atau Datuk Ji.
Ji Gong, menurut sebuah novel "Ji Gong Zhuan"
濟公傳 atau "Kisah Ji Gong adalah penitisan dari Xiang Long Zun Zhe 降龍尊者(Hang Li ong Cun Cia - Hokkian) salah seorang dari 18 Lohan. Ia sangat mahir dalam semua ilmu ke Buddhaan .
Semboyannya adalah "semua ajaran itu berpokok di dalam batin". Ia tidak mempedulikan tata cara yang bersifat semu. Satu - satunya benda yang akrab dengannya adalah kipas yang sudah butut
dan sepasang sepatu rusak. Dengan pakaian
compang - camping dia berkelana membantu
orang yang membutuhkan pertolongan dan
menghukum para durjana.
Sebab itu dikalangaan Buddhis dia dikatakan seorang Buddha, yang meskipun tidak berpantangan dalam hal makanan tetapi hatinya suci. Kelakuannya membuat para bikkhu yang meskipun berpantang makan daging dan arak, tetapi hatinya kotor (yang banyak terdapat pada waktu itu), malu sendiri.
Kisah kepahlawanan Ji Gong banyak sekali dan
disukai sampai sekarang .
Bersambung.....

ASAL USUL DAN KISAH BUDDHA HIDUP CHI KUNG bag 3

ASAL USUL DAN KISAH BUDDHA HIDUP CHI KUNG bag 3
Sang wakil sempat mengadukannya kepada Bhikkhu kepala, tapi Bhikkhu kepala mengabaikan laporan tersebut dan meminta buktinya. Oleh karena itu, Wakil Bhikkhu Kepala itu menyuruh 2 orang bhikkhu untuk mengawasi Li Xiuyuan untuk menangkap basah perbuatan Li Xiuyuan. Suatu siang, Li Xiuyuan memasuki perpustakaan untuk tidur, saat akan tidur, tiba2 Li Xiuyuan bangun dan melakukan sesuatu sehingga perutnya menjadi gendut. Melihat hal ini, salah seorang dari bhikkhu pengawas memberitahu wakil kepala, yang kemudian mengajak Bhikkhu kepala untuk menangkap basah Li Xiuyuan. Saat itu sang Bhikkhu kepala merasa menyesal atas tindakan Li Xiuyuan karena beliau tidak bisa lagi melindunginya. Tibalah sang Bhikkhu kepala dan wakilnya serta para bhikkhu pengawas Li Xiuyuan di ruang Perpustakaan.
Sang Bikkhu kepala membangunkan Li Xiuyuan dan bertanya apakah Li Xiuyuan mencuri sesuatu. Li Xiuyuan menjawab dia tidak mencuri sesuatu. Sang wakil yang sudah merasa tidak suka, langsung menuduh dengan mengatakan apa yang ada di balik jubahnya. Kemudian Li Xiuyuan menjawab bukan apa2 dan membuka jubahnya, alhasil bukannya barang curian yang keluar melainkan debu dan sampah2. Pada saat itu Li Xiuyuan berkata, “saat ingin tidur, saya melihat ruangan ini sangat kotor, jadi saya membersihkannya”. Tapi karena tidak ada tempat sampah untuk sementara debu dan sampah2 tersebut dimasukkan kedalam jubahnya. Saat itu Bhikkhu kepala sangat senang dan malah menegur sang wakil untuk lebih bijaksana dan menyuruh Bhikkhu lain untuk membersihkan debu dan sampah tersebut. Setelah kejadian ini Li Xiuyuan lebih sering berada di luar Kuil dan lebih dikenal sebagai Ji Gong.
Bersambung....

Kisah dan Asal Usul Buddha Hidup Chi Kung bag 2

Kisah dan Asal Usul Buddha Hidup Chi Kung bag 2
Setelah berjalan jauh, tibalah Li Xiuyuan di Kuil Ling Yin. Setelah menceritakan kepada Bhikkhu Kepala maksudnya untuk menjadi seorang Bhikkhu, Li Xiuyuan jatuh pingsan karena kelaparan. Bhikkhu kepala yang mengetahui jati diri Li Xiuyuan adalah titisan Lohan Penakluk Naga bertubuh emas , maka sang Bhikkhu kepala mengetok dahi Li Xiuyuan sebanyak tiga kali. Li Xiuyuan tiba2 sadar dan mengetahui siapa dirinya. Oleh Bhikkhu kepala, Li Xiuyuan diberi nama Bhikkhu (bukan Ji Gong / Chi Kung) .
Setelah menjadi Bhikkhu, Li Xiuyuan sering menganggu bhikkhu lain yang kurang melatih diri. Sering kali Li Xiuyuan mencuri jubah bhikkhu yang kurang taat dan mengadaikannya untuk membeli arak atau daging. wakil Bhikkhu kepala yang gila hormat juga jadi salah satu korbannya, dimana jubah dari Wakil Bhikkhu kepala ini digadaikan oleh Li Xiuyuan.
Bersambung.....

ASAL USUL DAN KISAH BUDDHA HIDUP JI GONG (Chi Kung Hok Hud) bagian 1

ASAL USUL DAN KISAH BUDDHA HIDUP JI GONG (Chi Kung Hok Hud) bagian 1
Ji Gong (Chi Kung) dilahirkan dengan nama Li Xiuyuan yang merupakan anak dari Li Maochun. Li Maochun adalah seorang penasehat militer yang sangat dermawan. Hanya saja sejak menikah sampai mencapai usia setengah baya, Li Maochun belum dikaruniai seorang anak. Hal itu membuat para kenalan Li Maochun meragukan kebaikan hatinya. Istri dari Li Maochun adalah seorang yang baik hati dan taat dengan ajaran agama, menyarankan agar Li Maochun untuk menikah lagi. Tapi Li Maochun menolaknya karena merasa istrinya masih muda dan bisa memberikan keturunan. Karena ingin dikaruniai anak, maka suami istri ini merencanakan berangkat ke suatu kuil agar dikaruniai seorang anak. Pada saat berdoa di ruang Lohan di kuil tersebut, salah satu patung lohan yang ada seakan2 turun ke lantai. Saat melihat hal tersebut kepala kuil menyampaikan selamat kepada Li Maochun karena akan di karuniai anak.
Tak lama kemudian Li Maochun dikaruniai anak laki-laki yang diberi nama Li Xiuyuan. Tak lama Li Xiuyuan lahir, Li Maochun meninggal. Sejak saat itu Li Xiuyuan diasuh oleh ibunya yang tetap setia kepada Li Maochun. Saking setianya ibu Li Xiuyuan, mencatat segala sesuatu yang dikerjakannya setiap hari dan membakarnya agar suaminya (Li Maochun) tahu apa saja yang dia kerjakan. Li Xiuyuan tumbuh menjadi anak yang pintar, bahkan sangat pintar. Saat berusia 7 tahun, Li Xiuyuan sudah dapat menghapal kitab suci dan bahkan mengalahkan teman belajarnya yang lebih tua. Saat berusia sekitar 15 tahun, ibunya meninggal dunia. Saat itu Li Xiuyuan yang sangat sedih makin giat belajar agama Buddha. Paman dari Li Xiuyuan merasa khawatir karena Li Xiuyuan selalu membaca kitab suci agama Buddha. Setelah beberapa lama, saat itu sang paman merasa Li Xiuyuan sudah cukup umur untuk menikah, maka hal ini dibicarakan dengan Li Xiuyuan. Li Xiuyuan menolaknya, tapi sang paman tetap mendesak dan akhirnya memilihkan jodoh untuknya. Saat akan menikah, Li Xiuyuan pergi dari rumah karena ingin mempelajari agama Buddha lebih mendalam dan menjadi Bhikkhu.
Bersambung.....

KISAH INSPIRATIF: Inilah Wejangan Pakar Fengshui Li Ka-Shing Yang Terkenal

KISAH INSPIRATIF:
Inilah Wejangan Pakar Fengshui Li Ka-Shing Yang Terkenal
Li Ka shing (Hanzi : 李嘉誠; Pinyin : Lǐ Jiāchéng) taipan dari Hongkong selama bertahun-tahun berada di peringkat orang terkaya se Asia. Ia pernah berkata, “Rezeki kecil tergantung pada upaya manusia, rezeki besar tergantung pada Tuhan.”
Tampaknya ia sedang mengatakan bahwa segala hal adalah takdir. Paman Chen adalah salah satu dari 10 besar guru Fengshui di Hong Kong. Konon Ia adalah guru Fengshui yang selalu menjadi ‘jujukan’ taipan Li Ka shing. Kisah diantara mereka berdua bagaikan sebuah legenda, baru-baru ini pesan terakhir paman Chen sebelum meninggal tersebar hangat di internet.
Chen Lang adalah nama asli paman Chen, ia pengikut agama Tao yang taat, sangat piawai dalam memandang aura seseorang, mampu menceritakan dengan rinci nasib masa lalu dan akan datang sang penanya. Konon keakuratan ramalannya sangat menakjubkan.
PROMOTED CONTENT
by Mgid
Kehilangan 14 kg dalam 2 Minggu Tanpa Olahraga
Orang-orang terkenal Hong Kong yang pernah diramal oleh paman Chen adalah Lee Shau Kee, Cheng Yutung, Carina Lau, Zhang Xiaohui, Albert Yeung, Joey Yung, Nicholas Tse, Gigi Lai, Ray Lui dan lainnya. Selain itu ada almarhum Raja Thailand Bhumibol dan almarhum mantan Presiden Soeharto dari Indonesia; dimana kabarnya mereka semua pernah bertandang ke paman Chen.
Paman Chen pertama kali berjumpa dengan Li Ka shing di sebuah perjamuan makan. Ketika itu Li Ka shing baru berusia 30 tahun dan masih berstatus seorang pedagang kecil. Paman Chen meramalkan nasibnya, disusul dengan pertanyaan, “Berapa banyak harta kekayaan yang Anda harapkan kelak, baru Anda merasa puas?”
Pada saat itu Li Ka shing menjawab, jika memiliki 30 juta HKD (50 miliar rupiah) sudah sangat puas. Paman Chen malah berkata, gudang harta dalam kehidupan Anda tidak lumrah, tapi melimpah ruah, kelak Anda pasti menjadi orang terkaya Hong Kong!
Li Ka shing terlahir di keluarga miskin. Pada tahun 1940, Li Ka shing yang berusia 12 tahun, berasal dari Chaozhou propinsi Guangdong berimigrasi ke Hong Kong. Pada usia 14 tahun ia terjun ke dunia perdagangan; usia 22 tahun ia berbisnis secara resmi. Pada tahun 1958 Li Ka shing mulai berinvestasi di pasar real estate.
Melalui perjuangan dan upaya yang tak kenal lelah, ia menjadi pengusaha Tiongkok yang paling sukses di seluruh dunia. Sekarang Li Ka shing memimpin Cheung Kong Holdings, Hutchison Whampoa, Hong Kong Electric Holdings Limited, Li Ka shing Foundation dan grup perusahaan lainnya.
Pesan wasiat paman Chen
Paman Chen meninggal dunia di rumah sakit Yanghe pada 29 November 2003 dalam usia 78 tahun.
Sebelum meninggal ada banyak konglomerat secara pribadi berkunjung ke rumah sakit,. Paman Chen juga dengan tulus memaparkan pada para hartawan itu bahwa ia hanya sekedar membantu mereka yang asetnya setara dengan kekayaan sebuah Negara, dalam hal “pengunduhan kekayaan” dan “resep rahasia menjadi kaya”.
Sebelum ajal menjemput, paman Chen mengatakan, “Mengapa saya mau membantu kalian, adalah karena hanya kalianlah yang bisa memberi bantuan kepada orang yang lebih banyak.” Ia lanjut mengatakan sebelum ajalnya menjemput :
“Sesungguhnya berkah kalian orang-orang kaya yang ini bukan diberkahi dari satu siklus kehidupan saja, melainkan kumpulan berkah dari perilaku kebajikan yang telah terakumulasi dalam banyak kali siklus kehidupan lampau; seperti berbakti pada orang tua, menghormati guru dan beramal pada semua makhluk kehidupan, barulah bisa meraih berkah seperti sekarang ini”
Sekarang ini banyak sekali orang yang salah jalan, dimana hendak menghasilkan uang dengan menggunakan cara kekuasaan atau pengetahuan iptek modern.
Itu karena mereka tidak tahu bahwa ini semuanya adalah ‘Yuan‘ (緣; jodoh, akibat, memanen berkah); sesungguhnya diri Anda sendirilah yang harus memiliki ‘Yin‘ (因; menanam sebab)’ terlebih dahulu dengan melakukan berbagai kebajikan mengumpulkan beraneka pahala. Apabila tidak ada unsur ‘Yin’ tersebut maka saya juga tidak bisa membantu.
Mengapa sekarang ini saya harus menderita (melakukan operasi tiga kali di Hong Kong dan mengalami banyak penderitaan selama di RS)?
Karena walaupun niatan saya baik dengan membantu kalian mengubah ‘Yuan’, agar kalian bisa sukses lebih awal dan bisa membantu orang lebih banyak; namun bagaimanapun hal ini bertentangan dengan ‘Tiandao’ (天道; jalan atau aturan langit), maka saya masih harus menerima hukuman Langit, karena sang Pencipta juga mempunyai rencana sendiri.
Fengshui indonesia
Jika mau sukses, selain diri sendiri harus menanamkan ‘sebab’ (berkah yang berezeki), juga masih harus memiliki jodoh yang baik. Pepatah kuno mengatakan ‘keramahan melahirkan kekayaan’ adalah kebijaksanaan yang terkumpul selama ribuan tahun.
Memperlakukan orang lain harus dengan tulus dan jujur, raut wajah ramah, baru bisa mengikat ‘jodoh orang baik’, karena orang-orang tersebutlah yang akan membantu Anda mencapai kesuksesan. Jangan sekali-kali setelah kaya lantas berbicara kasar dan sombong. Hal itu bisa mengurangi berkah. Dalam kitab kuno aliran Tao ‘Yi Jing’ dikatakan :
“Sombong itu merugikan, Rendah hati itu menguntungkan”
Moral zaman sekarang amat buruk. Semua orang demi reputasi dan keuntungan pribadi menghalalkan segala cara. Masalah umumnya masih terletak pada tidak adanya ajaran suci (pendidikan budi pekerti), tiada lagi rasa malu, lebih-lebih moral kebajikan dan keadilan.
Jika kalian ingin mempertahankan kekayaan dan berkedudukan tinggi generasi demi generasi, hal terpenting yang harus dilakukan adalah bagaimana membangkitkan ajaran suci (pendidikan budi pekerti) itu. Karena jika semua orang memiliki rasa malu, maka bencana yang dibuat manusia menjadi sedikit. Apabila bencana manusia sedikit, maka dengan sendirinya bencana alam akan berkurang.
Kalian semua berpengaruh besar; dirikanlah beberapa sekolah bagus, binalah guru yang baik, kembangkanlah pendidikan budi pekerti tersebut.
Jika Tiongkok tentram maka dengan sendirinya orang-orang dari berbagai tempat dunia akan datang untuk belajar. Melakukan hal ini adalah menanam berkah yang paling besar di dunia modern. Dengan melakukan kebajikan yang paling besar ini, maka siapa yang melakukan hal ini maka dialah yang akan mendapatkan manfaat, mendapatkan kemuliaan besar dan kedudukan tinggi generasi demi generasi.”
Pesan terakhir dari paman Chen ini tersebar luas di internet, meski kebenarannya tidak jelas. Namun dari wejangan itu bisa dipahami bahwa kekayaan dan kedudukan tinggi seseorang di masa sekarang adalah hasil dari pengumpulan pahala dan perilaku kebajikan dari banyak kehidupan-kehidupan masa lalu.
Dan apabila ingin kekayaan dan kedudukan tinggi tersebut berkesinambungan, maka harus terus berjalan lurus. Karena jika tidak, maka akan sangat cepat kehilangan berkah itu lagi. (Oleh :kisahparadewa.com; diedit dengan penyesuaian makna kata dan kalimat seperlunya).

Mantra Ta Pei Cou Beserta Arti dan 10 Manfaat Jika Membacanya

Mantra Ta Pei Cou Beserta Arti dan 10 Manfaat Jika Membacanya
Mantra Ta Pei Cou - Tentu sudah tidak asing buat kawan-kawan yang beragama Buddha, kita sering mendengar nya di klenteng-klenteng maupun di rumah. Nah pada kesempatan dan hari yang baik ini Buddha.id akan berbagi sedikit pengetahuan tentang Mantra Ta Pei Cou beserta artinya dan link download MP3 nya.
Buat teman-teman yang sudah tau tidak ada salah nya menyimak dan mengoreksi jika ada penulisan saya yang salah atau jika tidak keberatan bisa di share sekalian hehehe.
Na Mo Ta Pei Kwan She Yin Phu Sa ( 3 X )
Na Mo He La Ta Na To La Ye Ye
Dengan Penuh Sujud Aku Berlindung Kepada Tri Ratna
Na Mo O Li Ye Po Lu Cie Ti Suo Po La Ye ,
Dengan Penuh Sujud Aku Berlindung Kepada Yang Maha Sempurna
Phu Ti Sa To Po Ye Mo He Sa To Po Ye
Makhluk Yang Telah Mencapai Pencerahan Bodhi
Mo He Cia Lu Ni Cia Ye ,
Makhluk Agung Maha Welas Asih
Aum Sa Po La Fa Yi Su Ta Na Ta Sie
Aum Beliau Yang Mempunyai Kekuatan Kesempurnaan Dharma
Na Mo Si Ci Li To Yi Meng A Li Ye
Dengan Sepenuh Hati dan Sujud Aku Berlindung Kepadamu
Po Lu Cie Ti Se Fo La Ling To Po
Sumber Segala Kesucian
Na Mo Na La Cin Ce
Setulus Hati Aku Bersujud kepadamu
Si Li Mo He Pu Tuo Sa Mi
Cahaya Kebajikan Agung Yang Tiada Batas
Sa Pho Ah Tha Tou SU Peng Ah Se Yin
Para Buddha sayup - sayup merasakannya
Sa Po Sa To Na Mo Po Sa To
Yang Memiliki Semu Kemuliaan Kebahagiaan Kemakmuran Tak Terkalahkan
Na Mo Po Chie Mo Fa The Tou
Sumber Berkah Semua Makhluk di seluruh Penjuru Alam
Ta Che Ta Aum , Ah Po Lu Si Lu Cia Ti
Aum Beliau Yang Mendengarkan Suara Dunia Mengatasi Segala Rintangan Karma
Cia Lo Ti , Yi Si Li Mo He Phu Thi Sa To
Aku Akan menjalankan Ajaranmu Sampai Tercapainya Pencerahaan
Sa Po Sa Po Mo La Mo La
Memberi Yang Terbaik Untuk Semuanya di Dalam Berkah dan Kebijaksanaan Mu ( Mo Si Mo )
Si Li Tho Yin Chi Lu Chi Lu
Ketenangan Tidak Terhingga Laksana Dharma Melepasakan Keterbatasaan Mengembangkan Kemajuan Pribadai dan Semua Makhluk
Chien Meng, Tu Lu Tu Lu Fa Se Ye Ti
Berlatilah Atasi Kelahiran dan Kematian Raih Kemenangan Agung Gemilang
Mo He Fa Se Ye Ti To La To La Ti Li Ni
Bersatulah Tenang Jernih Tajam Berani Pancarkan Cahaya Terang Benderang
Se Fo La Ye Ce La Ce La Mo Mo Fa Mo La
Guncang Guncanglah Bebaskan Aku Dari Noda Batin
Mu Ti Li Yi Si Yi Se Na Se Na
Datang Datanglah , Dengar Dengarlah
Ah La Sen Foa La She Li
Raja Dharma Memutar Ajaran
Fa Sa Fa Sen Fo La Se Ye Hu Lu Hu Lu Mo La
Kabar Gembira Senyum Suka Cita Terimalah Dharma Menyatu Dalam Hati
Hu Lu Hu Lu Si Li Suo La suo La
Laksanakan Dharma Tanpa timbul Keraguan Teguh Tak Tergoyahkan
Si Li Si Li Su Lu Su Lu
Raih Kemenangan Tak Terkalahkan Bagaikan Embun Sejuk Yang Menyembuhkan
Pu Thi Ye Pu Thi Ye Pu Tho Ye Pu Tho Ye
Terang Teranglah Batin Sadar Sadarlah Tercerahkan
Mi Ti Li Ye Na La Cin Ce Ti Li Se Ni Na
Beliau Yang Maha Asih Yang Patut di Puja Laksana Pedang Kebenaran Yang Kuat Dan Tajam
Pho Ye Mo Na Sa Po He
Kepada Yang Sempurna Svaha
Si Tho Ye Sa Pho He
Kepada Yang Mulia Svaha
Mo Ho Si Tho Ye Sa Pho He
Kepada Yang Maha Gaib Svaha
Si To Yu Yi Se P La Ye Sa Pho Le
Beliau Yang Memiliki Gaib Sempurna Svaha
Na La Cin Ce Sa Pho He , Mo La Na La
Pelindung Yang Maha asih Svaha
Sa Pho He , Si La Sen A Mu Cu Ye Sa Pho He
Beliau Yang mampu Mengatasi Semua Kesulitan Svaha, Yang Berwajah Singa Svaha
Sa Po Mo He Ah Si Tho Ye Sa Pho He
Beliau Yang Memiliki Kegaiban Agung Svaha
Ce Ci La Ah Si To Ye Sa Pho He
Beliau Yang Memiliki Kegaiban Cakra Svaha
Pho To Mo Ci Tho Ye Sa Pho He
Yang Memegang Bungah Teratai Svaha
Na La Cin Ce Pho Cia La Ye Sa Pho He
Pelindung Yang Welas Dan Patut di Puja Svaha
Mo Po Li Sen Ci La Ye Sa Pho He
Resi Agung Yang Menjalani Hidup Suci Svaha
Na Mo He La Ta Na To La Ye Ye
Dengan Penuh Sujud Aku Berlindung Pada Tri Ratna
Na Mo Ah Li Ye Po Lu Cie Ti
Dengan Penuh Sujud Aku Berlindung
Suo Po La Ye Sa Pho He
Kepada Yang Maha Sempurna Svaha
Aum Si Thien Tu Man To La Pha To Ye
Aum Semoga Jalan Mantra Ini membuahkan Kegaiban Kesuksesan
Sa Pho He
( Svaha )
Mohon koreksinya ya sobat jika ada kesalahan tulisan dan arti. Berikut ini adalah 10 Manfaat Jika Membaca Nya :
Dapat membuat hati kita lebih damai dan pikiran lebih jernih dan terang
Dapat menghilangkan segala penyakit batin
Membuat kita lebih panjang umur
Wajah kita akan selalu memancarkan kebahagiaan, sehingga rejeki lebih lancar
Dapat mengurangi karma buruk yang kita perbuat di masa lampau
Dapat mengurangi hambatan
Dapat membuka Prajna ( kebijaksanaan) untuk lebih mengerti Dhamma
Dapat menimbulkan Bodhicitta sehingga keyakinan Kita terhadap Triratna akan menjadi lebih kokoh.
Dapat terhindar dari rasa ketakutan yang berlebihan dan terhindar dari segala bencana yang akan menimpa
Setelah meninggal dunia akan dijemput oleh Para Buddha dan Bodhisattva ke Surga (Tanah Suci)
Penulis: Yunarsi Qin